Pernah kah kalian melihat bahkan mungkin
mengalami sendiri, orang lain yang menyangsikan atau bahkan sampai ikut men-jugde cita-cita dan harapan besar dirimu atau orang-orang terdekatmu? Bagaimana perasaan kalian saat terjadi hal itu? Mungkin sedih, kesal atau bahkan
justru menjadi tidak lagi pe-de (percaya diri) dikarenakan penghakiman pihak lain
terhadap segala upaya diri kita dalam menggapai impian tersebut. Padahal
bukankah Cita-cita itu milik kita? Kita lah yang lebih tau sampai batas mana upaya
tersebut sudah kita optimalkan.
Jujur, saya suka menulis. Apalagi
menulis di saat banyak hal yang mengganggu pikiran, bahkan parahnya saya pernah menulis karena ingin membuat sindiran untuk seseorang (hehehe), rasanya ingin semua unek-unek itu
tertuang dalam tulisan, hingga tak hanya jadi keluhan namun juga jadi
renungan.
Ingat sekali, awal mula merasa sangat terbantu dengan menulis, saat kelas 4 SD (kalau tidak salah). Ada tragedi yang terjadi membuat saya tak henti menangis ketakutan, namun seketika air mata berhenti setelah semua curhatan itu tertuang di buku tulis.
Setelahnya mulailah SMP saya membuat blog dan meneruskan menulis segala kegelisahan saya di sana. Kebiasaan ini pun berlanjut hingga saya kuliah, tumpah ruah semua rasa tercurah di diary digital saya. Tanpa sadar, kebiasaan menulis ini mulai menumbuhkan benih-benih impian saya menjadi seorang wartawan/ reporter. Meskipun saat itu belum pernah ada kesempatan bagi saya untuk mendekati atau mendalami jurnalistik sebagai bagian dari profesi itu.
Ingat sekali, awal mula merasa sangat terbantu dengan menulis, saat kelas 4 SD (kalau tidak salah). Ada tragedi yang terjadi membuat saya tak henti menangis ketakutan, namun seketika air mata berhenti setelah semua curhatan itu tertuang di buku tulis.
Setelahnya mulailah SMP saya membuat blog dan meneruskan menulis segala kegelisahan saya di sana. Kebiasaan ini pun berlanjut hingga saya kuliah, tumpah ruah semua rasa tercurah di diary digital saya. Tanpa sadar, kebiasaan menulis ini mulai menumbuhkan benih-benih impian saya menjadi seorang wartawan/ reporter. Meskipun saat itu belum pernah ada kesempatan bagi saya untuk mendekati atau mendalami jurnalistik sebagai bagian dari profesi itu.
Setelah lulus kuliah, kesadaran
ingin menjadi seorang reporter pun mulai mendapatkan peluangnya.

