Tampilkan postingan dengan label Futur Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Futur Iman. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

Dosa




Andai ia memiliki bau, seberapa menjijikan bau badan kita?

Andai sekali melakukannya timbul borok, seberapa parah kondisi peradangan kulitmu?

Andai setiap dosa yang dilakukan menjadikan setiap nikmat dicabut, seberapa miskin dan papah nya diri kita?

Andai laku dosa umat Nabi Muhammad harus dihapus dengan cara membunuh diri kita selayaknya syariat di jaman Nabi Musa, berapa kali kita harus membunuh diri kita sebagai penebus dosa?

Andai setiap dosa mu, selalu Allah tampakkan langsung di hadapan semua manusia yang kau kenal maupun tidak, masihkah kah dirimu petantang-petenteng melenggang di atas bumi?

Andai kedatangan malaikat izrail 70 kali sehari untuk menghampiri kita itu, ditampakkan jelas oleh Allah, masihkah kita berani berbuat dosa?

Andai setiap dosa yang kitalakukan, Allah beri teguran langsung, punya kuasa apa kita melawan azab nya?

Seberapa banyak dosa kita dari mulai baligh hingga saat ini?

Ingat selalu, Pengampunan Allah selalu terbuka. Dan azabNya selalu mengintai mereka yang Lalai dari Menghamba.
.
*dari aku yang masih penuh dosa, namun karena cinta, segala aibku ditutup rapat olehNya*

Bicara Baik atau Diam


.
'Ingin ku berkata kasar...' itu kaloo,
Lagi nasehatin dengan nada biasa aja, eh tiba-tiba dinyolotin.
.
'Pengen marah, tapi takut dosa..' itu ketikaa,
Lagi ngerjain sesuatu yang sangat disukai, eh dikomentarin hasil karyanya jelek.

Hal-hal bikin kezel di atas itu, berkaitan erat dengan kerjaan lisan kita. Manusia itu, dari sejak punya mata, lisan, dan hawa nafsu emang berpotensi banget untuk banyak berkomentar atau berpendapat.
.
Terlebih manusia, Allah kasih akal untuk merenungi segala fenomena di sekitarnya. Didukung lagi dengan munculnya aplikasi media sosial saat ini, makin-makin deh. Rasanya medsos itu sekarang ya isinya kebanyakan cuma saling lempar komentar atas kehidupan orang laiin aja.

Manusia, Allah ciptakan sebagai makhluk yang mampu berpikir dan menelaah sesuatu, itulah sebab mereka diberi akal. Namun terkadang, kita lupa akan hal itu. Adanya akal, tak otomatis menjadikan lisan kita terkontrol dengan mudah. Maka dari itu, Rasulullah mengingatkan kita..
"Bicaralah yang baik atau diam."
.
Jika tak yakin apakah yang akan lisan kita ucapkan adalah hal yang lebih baik, maka diam adalah pilihan yang tepat untuk kita. Jangan sok tau, merasa paling benar, dan  jangan pula mudah menghakimi orang lain.

Tahan perkataan ga penting, dan tebarkan kata-kata baik serta bermanfaat bagi sekeliling kita. Jadikan akalmu bekerja, sebelum lisanmu berucap. Semua itu, lakukanlah demi mengharapkan ridho Allah dan RasulNya.

Semangaat~

@30haribercerita #30hbc1919

Cari Hiburan Jangan Diiringi Baperan


Kok bisa baperan saat menikmati hiburan?
Ya bisalah.

Contohnya,
Pernah ga nonton film sampe ikutan meresapi emosi dan nilai yang dibawa para pemeran dan alur cerita? Sampe merasa kesel sama pemeran antagonis, meski udah selesai nonton filmnya?

Atau jadi merasa hits, saat ikut-ikutan trending dari artis atau film tertentu?

Atau pernah ga jadi ikutan galau dan kepikiran gara-gara kabar penyanyi idola kita yang kecelakaan atau meninggal mendadak?

Atau, jadi ga fokus ibadah setelah mendengarkan salah satu lagu dari penyanyi favorit kita?

Itu tandanya kita mulai baperan saat menikmati hiburan. Padahal hiburan itu hukumnya Mubah, jika sudah diiringi dengan perasaan begitu, hati-hati jangan-jangan kita sudah condong jadi berlebihan.

Sebagai muslim, utamanya, kita tidak boleh berlebihan dalam hal yang mubah. Termasuk saat mencari hiburan. Terlebih lagi, kan kita tau propaganda orang-orang yang tidak suka dengan Islam masuknya lebih banyak melalui hiburan. Jika kita termasuk yang begitu menikmati dan mengagumi hiburan-hiburan yang disuguhkan oleh pihak di luar Islam, hati-hati, mungkin kita tidak sadar sudah tersusupi pemikiran mereka.

Misal, dalam film hollywood. Berapa banyak film asal sana (hollywood) yang tidak dibumbui oleh adegan vulgar semisal kissing scene atau wanita berpakaian terbuka? Tentu leboh banyak yang menyertakannya, kan. Bagi kita yang sudah terlanjur menikmati karya-karya hollywood pasti akan menganggap adegan-adegan tersebut biasa dan tak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang menghebohkan. Padahal jika di cek, kita orang Indonesia yang menonton kebanyakan adalah seorang muslim.

Misal, dalam film hollywood. Berapa banyak film asal sana (hollywood) yang tidak dibumbui oleh adegan vulgar semisal kissing scene atau wanita berpakaian terbuka? Tentu leboh banyak yang menyertakannya, kan.

Bagi kita yang sudah terlanjur menikmati karya-karya hollywood pasti akan menganggap adegan-adegan tersebut biasa dan tak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang menghebohkan. Padahal jika di cek, kita orang Indonesia yang menonton kebanyakan adalah seorang muslim.

Atau, saat melihat film hero buatan Amerika, kita sudah mahfum jika tokoh penyelamat dunia di film tersebut adalah sosok seseorang yang tidak pernah ditampakkan dekat dengan tuhanNya. Aneh kan ya? Logika berpikir sebagai seorang muslim, yang harusnya meyakini Allah dan segala nilai ajaran Islam, perlahan diacak-acak oleh pihak pembuat film tersebut. Tentunya itu terjadi tanpa kita sadari.

Musik juga menjadi hiburan yang sering bikin kita baper, entah jadi berlebihan ngefans dengan penyanyinya atau dengan melodi dan liriknya. Sehingga kita jadi gak sadar dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam di dalam setiap penampilan musisi tersebut, pada lirik ataupun MV nya.

Makanya, menikmati hiburan jangan sampai terlena. Jadikan selingan jarang-jarang saja. Jangan dikit-dikit nonton film, jangan sampai apapun aktivitasnya ditemaninya sambil dengerin musik. Awas, nanti kita jadi baper dalam menikmati hiburan. Jadi ketergantungan dengan hiburan. Padahal, yang sifatnya aktivitas berpahala saja masih banyak yang belum kita coba.
.
*Ini tulisan bener-bener buat ngaca ya, plis jangan pada tersinggung*

Insipired by Ceramah Ust. Akmal S. & Ust. Hanan Attaki

Foto : Buku favorit penyadar saya, agar jangan baperan menyaksikan hiburan negeri korea selatan.

@30haribercerita #30hbc1917

Siapa yang Salah? Siapa yang Marah?



Nggak tau ya, apakah kita sama-sama ngalamin masa-masa ini. Maksudnya masa dimana kita yang lagi diingetin karena telah melakukan kesalahan, eh tiba-tiba kita juga yang marah ga jelas dan merasa tersakiti gitu hatinya.

Singkatnya, pernah ga dikasih masukan/saran dr orang lain atas kekeliruan kita, eh kitanya malah marah?

Yang salah siapa? Yang marah siapa?

Aku baru aja ngeh hari ini, kalo ternyata egonya manusia itu kalo semakin dibisikin syaithan makin-makin deh jadinya. Keinget sama peristiwa itu.

Sebenarnya mugkin awalnya adalah perasaan malu saat dikoreksi kesalahannya, eh tapi setelah itu karena berkaitan dengan terlukanya harga diri jadi merasa perlu melakukan pembelaan kuat.

Dan seringkali, karena kita sebagai pihak yang dikoreksi ga bisa menerima dengan lapang, penolakan kita bentuknya akhirnya berupa ungkapan-ungkapan kesel.

Taukan, kalo marah bukan pada tempatnya itu siapa penyebabnya? Yap, godaan Syaithan. Maksud dari marah yang bukan pada tempatnya adalah, marah yang tidak didasari karena Allah dan Rasul-Nya. Kan tadi kita marah karena merasa ego kita terluka. Padahal kita memang salah.

TAPI NGEYEL~

Nah padahal, dalam Quran aja ada ayat yang menyebutkan perintah untuk, "Qooluu Salaaman". Maksudnya, kita diminta untuk berbicara dengan merendahkan hati saat menemui orang-orang keras kepala yang meremehkan kita.

Tuh, saat kita benar saja kita diminta tetap rendah hati. Apalagi saat kita salah. Harusnya lebih tau diri. *nunduk*

Meski kadang adaaa aja, orang yang mungkin menasehatinya dengan cara yang nyelekit, tapi kalo omongannya benar, kita berhak ngebantah apa? Toh kita memang sedang berada dipihak yang salah.

Maka, merespon segala nasehat dan saran itu agar tepat, awali dulu baca ta'awudz lirih kemudian dilanjut dengan senyuman. Hindari menjawab dengan maksud pembelaan. Karena biasanya ujungnya adalah marah dan keluarnya kata-kata yang tidak baik. Tahan lisan dan ego kita. Minta bantuan sama Allah. InsyaAllah bisa!

Jadi, jangan lagi marah ya saat dikoreksi orang sekitar kita. Semoga aku, kamu, kita, Istiqomah. Aamiin
.
@30haribercerita #30hbc1916#janganmarah #NAK #sabar

Bagaimana Jika Aku Tahu, Ajalku Sudah Dekat?


.
Saat itu, ada informasi beredar terkait prediksi tinggi gelombang tsunami Selat Sunda yang mencapai daerah luar Banten.
.
Bahkan daerah Bekasi Utara, yang mana masih satu kota dengan tempat tinggalku Bekasi Barat, di prediksi akan terdampak gelombang tsunami selat sunda setinggi 2,3 meter. Bahkan daerah Jakarta diprediksi dihampiri gelombang tsunami setinggi 5,3 meter, dua kali lipat dari Bekasi Utara.
.
Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui bahwa ajalmu makin dekat? Dengarkan riuh genderang jantungmu, berdegup lebih kencang dari biasanya. Mengalami kondisi yang mengagetkan, menyesakkan sekaligus membingungkan.
.
Kaget, karena tak menyangka kota kelahiranku akan juga terdampak tsunami.
Sesak, karena aku mulai merasakan takutnya menghadap Allah dengan banyak gelimangan dosa.
Dan bingung, apa yang masih bisa kuperbuat untuk mempersiapkan menghadapi ajal tersebut di waktu-waktu terbatas itu.
.
Setelah mendengar kabar itu, tak mungkin jika aku merasa tenang. Perlahan mulai merasa tak berdaya, menghadapi kuasa Allah Yang Maha Dahsyat itu. Pelan, ku eja kembali kesalahan-kemaksiatan yang ingin ku tinggalkan namun belum kulakukan.
.
Degup jantung pun makin kuat, 
tidur pun tak lagi nyenyak.
Aku terbayang-bayang bencana itu
Aku takut. Merasa belum siap.
.
Hingga beberapa hari kemudian aku dapati kabar tersebut nyatanya tak valid, hoax saja. Bahkan kini ku cari gambarnya tak sama sekali ku temukan. Agak Lega kurasakan dada ini.. Huufft..
.
Namun ternyata, meski hanya hoax, perasaan ketika mengetahui ajal mendekat mampu kuingat dengan begitu baik.
.
Hingga kini, setiap mengingatnya membuat degup jantungku perlahan meningkat dan menampakkan gelisah sebagai gelagat.
.
Kalau kamu, jika tahu ajalmu sudah dekat, bagaimana perasaanmu?
.
@30haribercerita #30hbc19jika#30hbc1912
.
Credit foto : pinterest

Selasa, 04 September 2018

Futur (Turun Iman), Jangan Salahkan Lingkunganmu!

Padahal Bulan Ramadhan dan Syawal bahkan Dzuhijjah baru saja berlalu, tapi kenapa iman ini mulai terasa menurun lagi? :/

Beruntunglah Iman dari mereka yang telah berhasil menuntaskan targetan Ibadah Ramadhan lalu, menggenapkannya dengan 6 hari puasa syawal sekaligus dengan puasa arafah. Ia seharusnya bersyukur karena berada dalam kondisi terjaga kebaikannya.

Namun bila perlahan terasa menurun kualitasnya, apa sebenarnya yang salah?

Mudah memang, menjadi sholih/sholiha saat lingkungan kita mendukung kebaikan. Namun, tak mudah rasanya menjadi baik saat lingkungan kita akrab dengan keburukan atau minimal biasa saja menganggapi kebaikan. Saat sudah mulai dirasa mengendur semangat ibadah ini, sulit mengatrolnya naik jika sekeliling kita merasa kemunduran tersebut masih dalam kategori baik-baik saja.

Baca Al-Qur'an tak satu juz sehari pun masih biasa, menunda sholat sejam setelah adzan pun dianggap tak aneh, lalai sholat Isya karena sibuk bermain Internet pun tak hanya seorang diri.

Ampuun! Diri ini lagi kenapa?!

Bukankah dalam Islam ada tarbiyah dzatiyah. Pembinaan pribadi atau tarbiyah dzatiyah inilah benteng terakhir kita saat diliputi lingkungan tak kondusif beribadah. Menargetkan diri dengan kuantitas tertentu pada ibadah harian, yang dimaksudkan agar Allah berkenan menjaga diri ini dari kemaksiatan dan kelalaian. Agar senantiasa kita dekat dengan Allah baik saat ada yang membersamai maupun sedang menyepi sendiri.

Jangan mengaku kalah pada standar ibadah yang rendah dari lingkunganmu, kau berhak berubah sesuai inginmu. Tak perlu kau rendahkan diri menyamai mereka. Karena hisab akhirat setiap jiwa berbeda-beda. Ia bergantung pada amalan masing-masing kehendaknya, bukan pada kondusif atau tidak lingkungannya.

Berjuanglah. Allah tau kamu bisa!