Tampilkan postingan dengan label Diary Problem Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Problem Diri. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

Makan Siang yang Tak Biasa



Tumben-tumbennya siang ini, pilihan menu warteg untuk makan siangku adalah ikan goreng. Betul-betul tak pernah (seingatku), aku memilih menu ikan, saat mampir ke rumah makan sejuta umat itu. Pikirku siang itu, hanya ingin mencicipi ikan goreng buatan si mbak yu pemilik warteg.

Jujur, aku termasuk tipe yang menjauhi makan menu ikan khususnya yang berduri halus dan tak kasat mata. Karena begitu jarangnya memakan ikan, sulit bagiku untuk membedakan jenis ikan apa yang dijual di rumah makan. Kelihatannya semua sama. Begitulah yang kulihat di menu ikan suguhan warteg siang itu.

Yang aku tau bedanya hanya ikan tuna, lele dan bawal, oiya juga ikan asin. Hanya itu jenis lauk ikan yang kupahami. Kebanyakan karena mereka bertulang besar dan mudah dimakan, aku mengingatnya dengan jelas.

Kelemahan itu yang membuat aku "zonk" siang ini! Karena ketidaktahuanku dengan jenis-jenis lauk ikan tersebut, aku terlanjur memilih ikan yang bertulang halus.

Sesampainya di bimbel, aku dengan lahapnya menyantap daging ikan goreng pilihanku tanpa menghiraukan semua tulangnya. Dasar nasib, meski sudah ku sisihkan tulangnya, tiba-tiba aku tersedak. Sebuah tulang halus nyangkut di kerongkonganku! Ahkk! Sakitnya menelan ludah di saat seperti itu, durinya menusuk bagian dalam pinggiran leher ku. Ku coba mengeluarkannya dengan paksa menggunakan jari tulunjukku. Bukannya keluar, durinya berakhir masuk ke perut ku. Untungnya sudah tak mengganjal di kerongkonganku lagi.

Karena kapok, makan siangku harus tertunda beberapa menit. Kuputuskan untuk menyingkirkan semuaaaaa duri halus lauk ikan itu sebelum akhirnya bisa makan dengan tenang.

Kau tau, durinya banyaak sekali~ Padahal, makan berat ini adalah gabungan sarapan dan makan siangku. Aku sudah lapar sedari tadi. Tapi daripada tersedak duri, lebih baik aku menahan diri.

Itulah kisah makan siang tak biasaku dari sini. Pengalaman untuk keluar dari zona nyaman yakni menyisihkan duri ikan, sudah ku pelajari. Lain kali, berhati-hatilah fatim memilih apa-apa yang tak kau pahami. 😅

@30haribercerita #30hbc1921#30hbc19darisini

Cari Hiburan Jangan Diiringi Baperan


Kok bisa baperan saat menikmati hiburan?
Ya bisalah.

Contohnya,
Pernah ga nonton film sampe ikutan meresapi emosi dan nilai yang dibawa para pemeran dan alur cerita? Sampe merasa kesel sama pemeran antagonis, meski udah selesai nonton filmnya?

Atau jadi merasa hits, saat ikut-ikutan trending dari artis atau film tertentu?

Atau pernah ga jadi ikutan galau dan kepikiran gara-gara kabar penyanyi idola kita yang kecelakaan atau meninggal mendadak?

Atau, jadi ga fokus ibadah setelah mendengarkan salah satu lagu dari penyanyi favorit kita?

Itu tandanya kita mulai baperan saat menikmati hiburan. Padahal hiburan itu hukumnya Mubah, jika sudah diiringi dengan perasaan begitu, hati-hati jangan-jangan kita sudah condong jadi berlebihan.

Sebagai muslim, utamanya, kita tidak boleh berlebihan dalam hal yang mubah. Termasuk saat mencari hiburan. Terlebih lagi, kan kita tau propaganda orang-orang yang tidak suka dengan Islam masuknya lebih banyak melalui hiburan. Jika kita termasuk yang begitu menikmati dan mengagumi hiburan-hiburan yang disuguhkan oleh pihak di luar Islam, hati-hati, mungkin kita tidak sadar sudah tersusupi pemikiran mereka.

Misal, dalam film hollywood. Berapa banyak film asal sana (hollywood) yang tidak dibumbui oleh adegan vulgar semisal kissing scene atau wanita berpakaian terbuka? Tentu leboh banyak yang menyertakannya, kan. Bagi kita yang sudah terlanjur menikmati karya-karya hollywood pasti akan menganggap adegan-adegan tersebut biasa dan tak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang menghebohkan. Padahal jika di cek, kita orang Indonesia yang menonton kebanyakan adalah seorang muslim.

Misal, dalam film hollywood. Berapa banyak film asal sana (hollywood) yang tidak dibumbui oleh adegan vulgar semisal kissing scene atau wanita berpakaian terbuka? Tentu leboh banyak yang menyertakannya, kan.

Bagi kita yang sudah terlanjur menikmati karya-karya hollywood pasti akan menganggap adegan-adegan tersebut biasa dan tak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang menghebohkan. Padahal jika di cek, kita orang Indonesia yang menonton kebanyakan adalah seorang muslim.

Atau, saat melihat film hero buatan Amerika, kita sudah mahfum jika tokoh penyelamat dunia di film tersebut adalah sosok seseorang yang tidak pernah ditampakkan dekat dengan tuhanNya. Aneh kan ya? Logika berpikir sebagai seorang muslim, yang harusnya meyakini Allah dan segala nilai ajaran Islam, perlahan diacak-acak oleh pihak pembuat film tersebut. Tentunya itu terjadi tanpa kita sadari.

Musik juga menjadi hiburan yang sering bikin kita baper, entah jadi berlebihan ngefans dengan penyanyinya atau dengan melodi dan liriknya. Sehingga kita jadi gak sadar dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam di dalam setiap penampilan musisi tersebut, pada lirik ataupun MV nya.

Makanya, menikmati hiburan jangan sampai terlena. Jadikan selingan jarang-jarang saja. Jangan dikit-dikit nonton film, jangan sampai apapun aktivitasnya ditemaninya sambil dengerin musik. Awas, nanti kita jadi baper dalam menikmati hiburan. Jadi ketergantungan dengan hiburan. Padahal, yang sifatnya aktivitas berpahala saja masih banyak yang belum kita coba.
.
*Ini tulisan bener-bener buat ngaca ya, plis jangan pada tersinggung*

Insipired by Ceramah Ust. Akmal S. & Ust. Hanan Attaki

Foto : Buku favorit penyadar saya, agar jangan baperan menyaksikan hiburan negeri korea selatan.

@30haribercerita #30hbc1917

Siapa yang Salah? Siapa yang Marah?



Nggak tau ya, apakah kita sama-sama ngalamin masa-masa ini. Maksudnya masa dimana kita yang lagi diingetin karena telah melakukan kesalahan, eh tiba-tiba kita juga yang marah ga jelas dan merasa tersakiti gitu hatinya.

Singkatnya, pernah ga dikasih masukan/saran dr orang lain atas kekeliruan kita, eh kitanya malah marah?

Yang salah siapa? Yang marah siapa?

Aku baru aja ngeh hari ini, kalo ternyata egonya manusia itu kalo semakin dibisikin syaithan makin-makin deh jadinya. Keinget sama peristiwa itu.

Sebenarnya mugkin awalnya adalah perasaan malu saat dikoreksi kesalahannya, eh tapi setelah itu karena berkaitan dengan terlukanya harga diri jadi merasa perlu melakukan pembelaan kuat.

Dan seringkali, karena kita sebagai pihak yang dikoreksi ga bisa menerima dengan lapang, penolakan kita bentuknya akhirnya berupa ungkapan-ungkapan kesel.

Taukan, kalo marah bukan pada tempatnya itu siapa penyebabnya? Yap, godaan Syaithan. Maksud dari marah yang bukan pada tempatnya adalah, marah yang tidak didasari karena Allah dan Rasul-Nya. Kan tadi kita marah karena merasa ego kita terluka. Padahal kita memang salah.

TAPI NGEYEL~

Nah padahal, dalam Quran aja ada ayat yang menyebutkan perintah untuk, "Qooluu Salaaman". Maksudnya, kita diminta untuk berbicara dengan merendahkan hati saat menemui orang-orang keras kepala yang meremehkan kita.

Tuh, saat kita benar saja kita diminta tetap rendah hati. Apalagi saat kita salah. Harusnya lebih tau diri. *nunduk*

Meski kadang adaaa aja, orang yang mungkin menasehatinya dengan cara yang nyelekit, tapi kalo omongannya benar, kita berhak ngebantah apa? Toh kita memang sedang berada dipihak yang salah.

Maka, merespon segala nasehat dan saran itu agar tepat, awali dulu baca ta'awudz lirih kemudian dilanjut dengan senyuman. Hindari menjawab dengan maksud pembelaan. Karena biasanya ujungnya adalah marah dan keluarnya kata-kata yang tidak baik. Tahan lisan dan ego kita. Minta bantuan sama Allah. InsyaAllah bisa!

Jadi, jangan lagi marah ya saat dikoreksi orang sekitar kita. Semoga aku, kamu, kita, Istiqomah. Aamiin
.
@30haribercerita #30hbc1916#janganmarah #NAK #sabar

Body Positivity



Setiap ngaca be like, "Ih kok kayaknya aku gendutan.. iih. Hiks.."
.
Setiap mau wefie mesti sering bilang, "Yang pegang hape depan jangan aku doong, yang kurusan aja.. kalo aku nanti tambah keliatan bulet banget."
.
Atau setiap difotoin orang, komen pribadi yang keluar adalah, "Eh, tar dulu.. ini gw keliatan gendut. Ulang..ulang.. dong fotonya."
.
Bahkan setiap liat timbangan perasaan yang muncul adalah, "Nimbang gak ya? Kalo nimbang takut liat angkanya. Kalo ga nimbang, penasaran." Dan adegan itu, kemudian berakhir dengan nimbang namun disertai penyesalan, kenapa diri ini segemuk itu. Capek ga si?! Begitu aja terus sampe batre timbangannya abis.

Sebenernya body positivity itu apa si? Trus kalo gemuk gitu, tetap harus pede beraktivitas? Pede meski gemuk itu wujud body positivity?

Ah. Gak tau lah. Itu istilah 'barat'. Aku ga paham.

Yang aku tau, kalau sudah mulai naik berat badan itu, sebagai muslim/ah harus introspeksi diri. Jangan-jangan semua makanan yang diinginkan dia makan tuh, hingga akhirnya berefek ke naiknya angka timbangan dan lemak berlebih di badan. Salah satu pintu masuknya bisikan syaithan ke hati manusia itu salah satunya melalui banyak makan.
.
Meski, bukan berarti kalo punya berat berlebih kita ga berhak pede. Looh justru, kelebihan kita sebagai muslim/ah bisa ditunjukkan lebih kreatif, di luar daripada sisi penampilan.

Banyak makan bikin rada males beribadah. Bangun malem jadi agak susah ga sih? Apalagi kalo makan malemnya di atas jam 9 trus tidurnya mendekati tengah malam. Ampun, deh. Banyak Istighfar ini diri. Hawa nafsu perutnya perlu dikontrol neng (lagi ngomong sama diri sendiri). Perlu lagi merutinkan puasa sunnah, biar pola makan tidak mengganggu ibadah harian kita.

Yuk hatiiii! Niatkan jaga badan agar bisa lebih baik dalam beribadah! Yoshh
.
@30haribercerita #30hbc1914#bodypositivity #Islam
.
Foto : itu masa lalu saat aku masih sekecil itu. Wkwkw *2011*

Bagaimana Jika Aku Tahu, Ajalku Sudah Dekat?


.
Saat itu, ada informasi beredar terkait prediksi tinggi gelombang tsunami Selat Sunda yang mencapai daerah luar Banten.
.
Bahkan daerah Bekasi Utara, yang mana masih satu kota dengan tempat tinggalku Bekasi Barat, di prediksi akan terdampak gelombang tsunami selat sunda setinggi 2,3 meter. Bahkan daerah Jakarta diprediksi dihampiri gelombang tsunami setinggi 5,3 meter, dua kali lipat dari Bekasi Utara.
.
Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui bahwa ajalmu makin dekat? Dengarkan riuh genderang jantungmu, berdegup lebih kencang dari biasanya. Mengalami kondisi yang mengagetkan, menyesakkan sekaligus membingungkan.
.
Kaget, karena tak menyangka kota kelahiranku akan juga terdampak tsunami.
Sesak, karena aku mulai merasakan takutnya menghadap Allah dengan banyak gelimangan dosa.
Dan bingung, apa yang masih bisa kuperbuat untuk mempersiapkan menghadapi ajal tersebut di waktu-waktu terbatas itu.
.
Setelah mendengar kabar itu, tak mungkin jika aku merasa tenang. Perlahan mulai merasa tak berdaya, menghadapi kuasa Allah Yang Maha Dahsyat itu. Pelan, ku eja kembali kesalahan-kemaksiatan yang ingin ku tinggalkan namun belum kulakukan.
.
Degup jantung pun makin kuat, 
tidur pun tak lagi nyenyak.
Aku terbayang-bayang bencana itu
Aku takut. Merasa belum siap.
.
Hingga beberapa hari kemudian aku dapati kabar tersebut nyatanya tak valid, hoax saja. Bahkan kini ku cari gambarnya tak sama sekali ku temukan. Agak Lega kurasakan dada ini.. Huufft..
.
Namun ternyata, meski hanya hoax, perasaan ketika mengetahui ajal mendekat mampu kuingat dengan begitu baik.
.
Hingga kini, setiap mengingatnya membuat degup jantungku perlahan meningkat dan menampakkan gelisah sebagai gelagat.
.
Kalau kamu, jika tahu ajalmu sudah dekat, bagaimana perasaanmu?
.
@30haribercerita #30hbc19jika#30hbc1912
.
Credit foto : pinterest

Masa Ini Kerjaanku Semua?!


.
"Tolong kerjain ini ya.. oiya yang print dan fotocopy itu juga ya.. hari ini udah harus dipindahin ya.. jangan lupa hubungin mba itu, bilangin tentang yang kemarin ya.. duh kok belum selesai si yang kerjaan itu?!"
.
"Aaaaaaaaargghhh" pengen teriak kenceng rasanyaa..
.
Pernah ga si ngerasa kok dunia gini amat ya? Kerjaan rasanya kita semua yang harus nyelesain.
.
Aku lagi seriing buangets ngerasa begitu. Apa lagi akhir-akhir ini jadi anak muda yang terus - terusan diminta mengurus administrasi bisnis kecil-kecilan di rumah. Serasa junior magang di kantor-kantor yang sering disuruh-suruh seniornya. 😥
.
Cape kali ni jiwa dan raga.. Parahnya lagi, aku ini orangnya pelupa sangat. Walhasil, seabrek kerjaan itu seringkali adaaa~ aja yang kelewat dari ingatan. Trus ga berasa, tiba-tiba semuanya numpuk dan minta diselesain segera. 😵
.
Mohon Ampun Ya Allah..
Mohon Petunjuk Ya Rabbi..
.
Aku sadar, pasti ada hikmah dibalik semua tugas-tugas itu. Meskipun yang baru terasa sekarang-sekarang ini baru tertekannya aja, belum ngeh apa hikmahnya.
.
Tapi husnudzon sama Allah atas takdir yang datang kan WAJIB ya! Anggap aja kali ini lagi jadi pemagang di sebuah perusahaan kehidupan. InsyaAllah tugas-tugas yang dibebankan, pasti bermanfaat saat menjalankan bisnis sendiri nantinya.
.
Tak apa semua itu kerjaanku, toh manfaatnya aku yang merasakan..
.
@30haribercerita #30hbc1910

Mentook


Mau ini, mau itu, tapii mentok..
Mau bisa begini, bisa begitu, tapi mentook..
Mau hasilnya sebagus gambar yang ini, sebagus gambar yang itu, tapi mentok.
.
Mentok bikin stress.
Mau beraktivitas idenya mentok.
Stuck.
Berjam-jam mendekam pun ide tak kunjung datang.
Kutelateni, ganti warna, ganti gambar,
Ganti posisi, bekerja sambil bernyanyi-nyanyi, tapi aku masih buntu.
.
Beristirahat sejenak, menjeda daya otak yang telah dipaksa bekerja.
Berharap inspirasi datang menyapa.
.
Kini segarnya otak mulai terasa, beberapa ide muncul bersusulan. Ku selesaikan apa yang telah kumulai.
.
Tapi..
Begitu semua tanggungan selesai,
Kau bilang "Hasil buatanmu tak sesuai ekspektasi ku", "Tolong ubah seperti yang aku maksud ya."
Hati rasanya remuk. Mentok kerja otakku. Mentok hingga ke dasar semua semangatku.
.
.
@30haribercerita #30hbc1906

Sabtu, 05 Januari 2019

Baper



Wanita single mana yang tidak ingin menikah? Ia tahu benar kodratnya, ingin berkumpul bersama pasangan yang Allah takdirkan untuknya, segera. Namun jiwa, terkadang menuntut apa yang sering dipandang mata, dan mampu dirasa indera.

Bersegera padahal terburu-buru
Berkeinginan seperti mendikte Takdir
Berdoa selalu ingin dikabulkan segera

Manusia. Wanita.
Hatinya lembut. Rasa-rasa miliknya mudah terhanyut. Terbawa perasaan menjadikannya mudah berlarut-larut, dalam angan, dalam rasa yang berkecamuk.

Kamu Baper.
Tak dewasa dalam merasa. Tak bijak dalam berprasangka.

Gadis, kamu tahu Tuhan Adil.
Dia ingin kamu bersabar.
Atau mungkin dirimu perlu terus berkaca,
Memperbaiki cela yang ada, sembari menunggu semburat awan cinta yang dikelilingi pahala surga.

@30haribercerita #30hbc2019 #30hbc1905

Lupa


Kenapa kebanyak orang membenci sifat ini?  Padahal tau kah kita, apa hikmah sifat ini Allah jadikan sebagai salah satu fitrah manusia?

Lupa yang seringkali kita ingat, hanya perihal sikap menyebalkan saat seseorang tak fokus dengan sesuatu hal, hingga ia berakhir dg melupakannya.

Padahal ternyata lupa merupakan sebuah nikmat yang Allah jadikan juga untuk kita. 

Kok bisa? 

Ya, Allah yang berkuasa menjadikan lupa sebagai nikmat. Saat seseorang mengalami sesuatu yang mengerikan ataupun yang menyedihkan, rasa lupa atau teralihkannya perhatian lah yang menjadikan dirinya bisa beraktivitas kembali seperti biasa.

Trauma anak-anak korban bencana pun akan cepat pulih, jika mereka diajak untuk melupakan masa-masa mengerikan yang telah dilaluinya dengan bermain dan bercanda. Lupa-lah yang menjadikan mereka bisa menatap masa depan lebih cerah. Jika tidak diberkahi lupa oleh Allah, tak bisa dibayangkan mimpi buruk bencana yang selalui menghantui.

Maka, selalu ambil poin positif dari segala pemberian Allah Ta'ala. InsyaAllah dirimu akan merasa tenang dan optimis.

Atas berkah Rahmat Allah, kamu mampu melupakan semua hal yang mengerikan, menyedihkan bahkan menyesakkan.

Seperti aku yang lupa menulis di hari ketiga @30haribercerita #30hbc1903 , semoga ada hikmahnya. 😅

Selasa, 01 Januari 2019

Hakikat Kebenaran yang Tulus Tersampaikan


Jaman informasi yang penuh kemudahan ini, banyak orang semakin mudah memperkaya kapasitas diri. Mudah mencari ilmu. Tak lagi berbatas jarak untuk makin  mengetahui dan memahami, segala hal di dunia ini.

Dan kebenaran adalah salah satu yang marak dicari dan didefinisi kembali.

Tapi, dua hari belakangan ini aku sedang gelisah. Gulana perihal kebenaran dan ketulusan dalam penyampaiannya.

Memang begitulah manusia, diberkahi akal untuk bersikap. Disisipkan potensi nafsu sebagai ujian hidup. Maka mereka yang telah mulai untuk banyak belajar, akan terus dipertemukan dengan kebenaran-kebenaran baru yang sebelumnya tak ia kenali. Dan mereka yang lebih dahulu memahami kebenaran tersebut akan selalu diuji dengan ego yang tak sadar mungkin terkesan menghakimi.

Berpikiran terbuka bukan berarti menghindari hakikat kebenaran, apalagi menutup diri dari perbaikan. Dan berilmu bukan berarti bebas menyampaikan, segala yang benar tanpa ketulusan.

Tak apa. Aku hanya sedang bingung. Jika dua hal yang sama-sama bermaksud baik salah paham, bukankah jalan keluarnya adalah saling berlapang atas segala masukan? Janganlah dibenturkan! Yang sedang belajar dengan yang sedang menyampaikan kebenaran tetap bisa sejalan-berdampingan.

Bukankah kebenaran hanya dari Tuhan?

Maka jika nasihat untuk mu berasal dari Tuhan, berlapanglah. Dan jika Kebenaran yang kau sampaikan dari Tuhan, maka tunjukkanlah ketulusan dan kepedulian kepada penerimanya.

Kebenaran tak pernah salah. Kita lah yang sering salah memahami hakikat dan cara penyampaiannya.

-01-

Rabu, 12 Desember 2018

Curhatan Naiknya Berat Badan



Setelah pulang ke habibat asli di tanah perbatasan betawi dan sunda ini, nggak tau kenapa berat badan naiknya bisa ga kira-kira begini. Ada kayaknya naik hampir 6 kg!! 

Emangsih udh ada setahunan di tanah kelahiran ini, tp tetap aja untuk ukuran yang ga banyak kerjaan di rumah ini jelas adalah suatu kemunduran.

Banyak makan nasi, jajan ga dipikir, olahraga males-malesan bingit, separah-parahnya hidup ga beraturan, ya pas di rumah sini. Ga mikir uang makan bulan depan, ga mikir beban amanah berlebihan lagi (selayaknya dulu di kampus. Wkwkwkwk), kayaknya bener-bener jadi alasan yang bikin raga ini terus menerus nyaman. Sampe naik berat badan segitu banyaknya

Kenapa sekarang pengen nulis ini?
Lagi pengen mencoba Menerima kenyataan kenyataan tentang naiknya berat badan secara drastis ini aja si. Lagi pengen menyadarkan diri kalau terlalu banyak makan itu ga bagus buat aktivitas dakwah dan ibadah juga. 

Selasa, 04 September 2018

Futur (Turun Iman), Jangan Salahkan Lingkunganmu!

Padahal Bulan Ramadhan dan Syawal bahkan Dzuhijjah baru saja berlalu, tapi kenapa iman ini mulai terasa menurun lagi? :/

Beruntunglah Iman dari mereka yang telah berhasil menuntaskan targetan Ibadah Ramadhan lalu, menggenapkannya dengan 6 hari puasa syawal sekaligus dengan puasa arafah. Ia seharusnya bersyukur karena berada dalam kondisi terjaga kebaikannya.

Namun bila perlahan terasa menurun kualitasnya, apa sebenarnya yang salah?

Mudah memang, menjadi sholih/sholiha saat lingkungan kita mendukung kebaikan. Namun, tak mudah rasanya menjadi baik saat lingkungan kita akrab dengan keburukan atau minimal biasa saja menganggapi kebaikan. Saat sudah mulai dirasa mengendur semangat ibadah ini, sulit mengatrolnya naik jika sekeliling kita merasa kemunduran tersebut masih dalam kategori baik-baik saja.

Baca Al-Qur'an tak satu juz sehari pun masih biasa, menunda sholat sejam setelah adzan pun dianggap tak aneh, lalai sholat Isya karena sibuk bermain Internet pun tak hanya seorang diri.

Ampuun! Diri ini lagi kenapa?!

Bukankah dalam Islam ada tarbiyah dzatiyah. Pembinaan pribadi atau tarbiyah dzatiyah inilah benteng terakhir kita saat diliputi lingkungan tak kondusif beribadah. Menargetkan diri dengan kuantitas tertentu pada ibadah harian, yang dimaksudkan agar Allah berkenan menjaga diri ini dari kemaksiatan dan kelalaian. Agar senantiasa kita dekat dengan Allah baik saat ada yang membersamai maupun sedang menyepi sendiri.

Jangan mengaku kalah pada standar ibadah yang rendah dari lingkunganmu, kau berhak berubah sesuai inginmu. Tak perlu kau rendahkan diri menyamai mereka. Karena hisab akhirat setiap jiwa berbeda-beda. Ia bergantung pada amalan masing-masing kehendaknya, bukan pada kondusif atau tidak lingkungannya.

Berjuanglah. Allah tau kamu bisa!

Selasa, 12 Juni 2018

Aher Membuktikan, Pemimpin Muslim Bisa Diandalkan


Muslim Indonesia sempat dihadapkan pada sebuah pilihan yang aneh menjelang Pilkada DKI silam. Mereka diminta memilih antara Pemimpin non-muslim tetapi tidak korupsi dengan pemimpin muslim tetapi korupsi. Banyak Ulama yang keberatan dengan dua pilihan ini, mereka menyatakan bahwa pilihan tersebut telah mendiskreditkan posisi dan figur pemimpin muslim. Seolah-olah tidak lagi bisa ditemukan sosok pemimpin muslim yang kompeten, dalam hal ini yang tidak terjerat korupsi. Padahal hari ini, sudah mulai kita temukan banyak figur pemimpin muslim yang handal, salah satunya adalah Kang Aher, yang jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat akan berakhir pada 13 Juni ini.

Ahmad Heryawan, atau yang akrab disapa Kang Aher ini, telah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat selama dua periode (2008-2018). Sepanjang kepemimpinannya, Jawa Barat telah mendapatkan banyak prestasi dan penghargaan. Penghargaan terakhirnya adalah Parasarnya Purnakarya Nugraha yang didapatkan dari Presiden, atas prestasi capaian tertinggi secara nasional.