Tampilkan postingan dengan label Berkaca Yuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berkaca Yuk. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

Makan Siang yang Tak Biasa



Tumben-tumbennya siang ini, pilihan menu warteg untuk makan siangku adalah ikan goreng. Betul-betul tak pernah (seingatku), aku memilih menu ikan, saat mampir ke rumah makan sejuta umat itu. Pikirku siang itu, hanya ingin mencicipi ikan goreng buatan si mbak yu pemilik warteg.

Jujur, aku termasuk tipe yang menjauhi makan menu ikan khususnya yang berduri halus dan tak kasat mata. Karena begitu jarangnya memakan ikan, sulit bagiku untuk membedakan jenis ikan apa yang dijual di rumah makan. Kelihatannya semua sama. Begitulah yang kulihat di menu ikan suguhan warteg siang itu.

Yang aku tau bedanya hanya ikan tuna, lele dan bawal, oiya juga ikan asin. Hanya itu jenis lauk ikan yang kupahami. Kebanyakan karena mereka bertulang besar dan mudah dimakan, aku mengingatnya dengan jelas.

Kelemahan itu yang membuat aku "zonk" siang ini! Karena ketidaktahuanku dengan jenis-jenis lauk ikan tersebut, aku terlanjur memilih ikan yang bertulang halus.

Sesampainya di bimbel, aku dengan lahapnya menyantap daging ikan goreng pilihanku tanpa menghiraukan semua tulangnya. Dasar nasib, meski sudah ku sisihkan tulangnya, tiba-tiba aku tersedak. Sebuah tulang halus nyangkut di kerongkonganku! Ahkk! Sakitnya menelan ludah di saat seperti itu, durinya menusuk bagian dalam pinggiran leher ku. Ku coba mengeluarkannya dengan paksa menggunakan jari tulunjukku. Bukannya keluar, durinya berakhir masuk ke perut ku. Untungnya sudah tak mengganjal di kerongkonganku lagi.

Karena kapok, makan siangku harus tertunda beberapa menit. Kuputuskan untuk menyingkirkan semuaaaaa duri halus lauk ikan itu sebelum akhirnya bisa makan dengan tenang.

Kau tau, durinya banyaak sekali~ Padahal, makan berat ini adalah gabungan sarapan dan makan siangku. Aku sudah lapar sedari tadi. Tapi daripada tersedak duri, lebih baik aku menahan diri.

Itulah kisah makan siang tak biasaku dari sini. Pengalaman untuk keluar dari zona nyaman yakni menyisihkan duri ikan, sudah ku pelajari. Lain kali, berhati-hatilah fatim memilih apa-apa yang tak kau pahami. 😅

@30haribercerita #30hbc1921#30hbc19darisini

Bicara Baik atau Diam


.
'Ingin ku berkata kasar...' itu kaloo,
Lagi nasehatin dengan nada biasa aja, eh tiba-tiba dinyolotin.
.
'Pengen marah, tapi takut dosa..' itu ketikaa,
Lagi ngerjain sesuatu yang sangat disukai, eh dikomentarin hasil karyanya jelek.

Hal-hal bikin kezel di atas itu, berkaitan erat dengan kerjaan lisan kita. Manusia itu, dari sejak punya mata, lisan, dan hawa nafsu emang berpotensi banget untuk banyak berkomentar atau berpendapat.
.
Terlebih manusia, Allah kasih akal untuk merenungi segala fenomena di sekitarnya. Didukung lagi dengan munculnya aplikasi media sosial saat ini, makin-makin deh. Rasanya medsos itu sekarang ya isinya kebanyakan cuma saling lempar komentar atas kehidupan orang laiin aja.

Manusia, Allah ciptakan sebagai makhluk yang mampu berpikir dan menelaah sesuatu, itulah sebab mereka diberi akal. Namun terkadang, kita lupa akan hal itu. Adanya akal, tak otomatis menjadikan lisan kita terkontrol dengan mudah. Maka dari itu, Rasulullah mengingatkan kita..
"Bicaralah yang baik atau diam."
.
Jika tak yakin apakah yang akan lisan kita ucapkan adalah hal yang lebih baik, maka diam adalah pilihan yang tepat untuk kita. Jangan sok tau, merasa paling benar, dan  jangan pula mudah menghakimi orang lain.

Tahan perkataan ga penting, dan tebarkan kata-kata baik serta bermanfaat bagi sekeliling kita. Jadikan akalmu bekerja, sebelum lisanmu berucap. Semua itu, lakukanlah demi mengharapkan ridho Allah dan RasulNya.

Semangaat~

@30haribercerita #30hbc1919

Gregetan


.
"Kalo 14 % sama dengan berapa per seratus?" Tanya ku ke seorang murid sore itu.
.
"Aa..eem..a.." Wajahnya pucat, bingung diiringi senyum kecut. Ia tak paham harus menjawab apa.

Padahal baru saja aku jelaskan tentang apa arti dari persen. Sebenarnya ini mudah, karena ia harusnya hanya perlu menjawab angka 14 adalah pembilang dari pecahan per seratus itu. Tapi begitulah jika belum paham, mau semudah apapun, jawaban itu takkan keluar dari mulutnya.

Aku menghela nafas, "Huufft..."
Beginilah keseharianku sebagai guru bimbel SD, khusus pelajaran matematika. Tak mudah memang. Ujian berulangnya adalah menahan marah ataupun gregetan.

Bisikan hati, "Hei kamu pun dulu pernah begini, jangan  marah, kendalikan intonasi suara dan ekspresimu." , "Ayo perlahan-lahan coba jelaskan lagi padanya." terus-menerus aku gaungkan.

Saat benar-benar bingung akibat sang murid tak juga paham, aku biasanya akan tersenyum pusing sendiri di depan anak-anak itu. Bahkan, aku sering kali mengusap-usap wajah dan kepala anak-anak itu, sembari memanggil mereka dengan sebutan tertentu.

Panggilan 'Anak Pintar', 'Anak Sholeh' maupun 'Anak Ganteng' adalah yang sering aku tujukan pada mereka saat merasa gregetan. Mungkin hal itu terdengar aneh untuk ukuran orang yang kesal. Yap, karena aku tau, setiap ucapan adalah doa. Bahkan di saat gregetan, menahan marah pun, aku tetap harus memastikan lisanku berkata baik.

Namun, gregetan itu seketika akan hilang dan berganti senyum sumringah disertai rasa lega, saat mereka akhirnya memahami apa yang aku ajarkan. Senang nya bukan main. Meski gregetan, mereka kan tetap murid-murid ku. :)
.
@30haribercerita #30hbc1909

Aku, Sang Timbangan


Perkenalkan namaku, timbangan. Lengkapnya, Timbangan Berat Badan.

Aku alat yang menyedihkan. Aku sering disalahkan saat menunjukkan nilai kepada orang yang menggunakanku. Mereka seringkali tak terima, saat angka yang kutunjukkan lebih beberapa angka dari terakhir kali aku digunakan.

Ya, aku adalah Timbangan. Besar kecil angka yang kutunjukkan, seringkali membuat stress mereka yang menggunakan. Mereka banyaknya bersedih, atas berbedanya ekspektasi dengan angka yang kumunculkan.

Namun meski malang begini, ada yang takut jika bertemu dengan ku. Benar-benar menjauh dan tak mau menoleh barang sebentar. Entah karena mereka tak siap dengan kenyataan, atau karena aku dianggapnya perusak harapan 'sang penyuka makanan'.
.
Tapi hari ini aku senang. Karena pemilikku menjadikanku sebagai bagian dari pengadaan layanan kesehatan. Angka yang kutunjukkan sangat amat diperhatikan, bahkan dicatat dan dibagikan kepada yang bersangkutan. Nilai yang kumunculkan dijadikannya acuan, agar sang manusia tidak lalai menjaga diri dan kesehatan.

Salam Jujur dariku,
Sang Timbangan Berat Badan

@30haribercerita #30hbc1907

Kamis, 27 Desember 2018

Jika Rasulullah Ada Bersama Kita, ...


"Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada nabiyullah Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Semoga kita termasuk dari pada bagian umatnya yg Beliau akui di akhir zaman nanti."

Tiba-tiba teringat kalimat pembukaan majelis itu. Kenapa?

Beberapa jam yg lalu barusan lihat video seorang gadis muslim ditanya, "Jika Rasulullah ada bersama kita, apa yang ingin kamu katakan kepada beliau?"

"Aku akan memberitahukannya, sampai mana perjuangan kita. Dan apa yang telah Umat Islam lakukan selama ini, selepas ketiadaannya. Dan apa yang telah dilalui umat Islam." Jawab muslimah tersebut.

Jawaban, serta ekspresi keimanannya terpancar. Dia menjawab sembari berusaha tegar, namun akhirnya tangisannya pecah. Membuat aku yang sedang menyaksikannya ikut terenyuh dan seolah terbawa dengan pertanyaan itu. Mata mulai berembun, air mata turun perlahan.
Aku malu.

Jika aku benar-benar diberi kesempatan untuk berhadapan dengan Rasul, rasanya hanya tangis yang akan muncul saat itu. Sedih yang disertai rasa malu. Malu karena mengagumi orang yang tak sama sekali sejalan dg mu wahai Rasul Allah.

Aku teringat kalimat pembuka yang sekaligus doa itu. Tertampar diri ini! Terlebih lagi saat menemukan video muslimah itu. Makin makin aku dibuatnya malu.

Bekal apa yang sudah aku siapkan, agar pantas masuk ke barisan umat yang engkau akui Wahai Rasul? :"(

Rabu, 12 Desember 2018

Menyerap Semua Energi Positif



Kamu punya gak pengalaman healing traveling gitu?

Aku mau nyebut perjalanan napak tilas kehidupan kampus di semarang selama hampir 4 hari ini sebagai healing traveling.

Kenapa?

Iya banget ga sih setiap manusia itu bisa banget turun imannya? Apalagi saat lingkungan baik dan ideal bukan lagi jadi teman sehari-hari.

Setelah setahun lebih mutasi balik ke rumah, kerasa banget ada beberapa kemunduran dalam ibadah. Ibarat kata, ga se-greget dulu saat di kampus. 

Sampe saking jleb nya, pernah banget kena tegur umi di rumah karena kentara betul perbedaan setelah pulang dari Semarang. Bener-bener mikir abis ditegur itu!

Di semarang ada yang namanya wisma, di sana ibadah harian difasilitasi untuk selalu dipantau. 

Semua sholat dikondisikan selalu berjamaah. Sholat tahajud dibangunin. Puasa bisa barengan sama temen-temen yang lain. Tilawah harian pun dicek dan dilaporkan ke PJ wisma. Berangkat kajian bahkan diwajibkan. 

Dan itu semua bisa didapat dengan biaya hidup dan kontrak tahunan yang sangat murah.

Maka bicara segala perbaikan aku di Semarang tak mungkin jika tanpa peran wisma dan para guru-guru ku.

Tak hanya tentang wisma. Semarang juga mengingatkan ku dengan sosok yang menginspirasi yakni para murobbi..

Aku butuh doa dan nasihat mereka. Energi positif dari pancaran baiknya ruhiyah beliau semua. Aku butuh.

Semoga Allah perkenankan kita bertemu lagi ya ustadzah-ustadzah ku.. di jannah kelak. Aamiin.

Aku sedang ingin berubah jadi lebih baik. Semoga masih ada kesempatan. Jadi individu yang lebih ahsan akhlaknya, lebih sholiha dan taat beribadah sunnahnya.

Semarang.. tempat aku menyerap semua energi positif itu. Setiap ada kesempatan, akan kucoba kembali lagi..

Kereta Argo Muria,
Tegal, 12/12/18

Minggu, 23 September 2018

Mintalah Fatwa pada Kata Hati


 


Tentang meminta fatwa pada kata hati, ada hadist yang mendasari pernyataan ini :
Beliau, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan pada Wabishoh,

اسْتَفْتِ نَفْسَكَ ، اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ – ثَلاَثاً – الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.

HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Al Irwa’ no. 1734.

Manusia, diciptakan mempunyai dua kecondongan dalam menjalani hidup yakni potensi fasik dan taqwa. Barang siapa yang mensucikan jiwa/ hati nya maka ia termasuk orang-orang yang beruntung dan semakin dekat kepada Taqwa. Seperti yang disebutkan dalam QS. Asy-Syams ayat 8 - 10.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Kita umat nabi Muhammad adalah manusia biasa yang tidak mendapatkan petunjuk dari Allah langsung sebagaimana para Nabiyullah saat beraktivitas sehari-hari. Banyak pula dari kita bukanlah merupakan seorang ulama yang mampu memahami bagaimana merespon setiap peristiwa di lingkungan sekitar sesuai dengan Ilmu Fiqih Islam yang telah ada.

Maka jika terjadi keragu-raguan dalam diri kita apa yang harus kita lakukan?

Haruskah kita diam dan tidak mencari tau manakah respon terbaik yang harusnya kita berikan saat menanggapi sesuatu hal tersebut?  Atau manakah pilihan terbaik yang harusnya kita ambil?

Jika mengingat hadist di awal, maka pilihan kita adalah meminta fatwa pada kata hati. Cek kembali kata hati kita, apakah ia merasa gelisah ataukah tenang dengan berbagai pilihan berbeda itu? Jika ia tenang, maka pilihan tersebut lebih dekat kepada kebaikan. Namun bila ia gelisah dan berharap tak ada seorang pun yang melihatnya melakukan pilihan tersebut, maka keputusan itu lebih dekat kepada dosa.

Allah menjadikan kata hati sebagai alarm (pengingat) bagi kita di kala melakukan kesalahan. Ia akan merasakan keselisahan panjang setelah pemiliknya melakukan suatu kesalahan, meski nyatanya tak hanya ia sendiri yang melakukan kelalaian tersebut. Namun kata hati tak bisa berbohong. Kegundahan hati itu takkan mampu disembuhkan oleh obat dokter, ia hanya dapat kembali tenang setelah memohon ampun pada Allah dan melanjutkannya dengan mengerjakan berbagai kebaikan.

Allah berfirman dalam Qur'an Surat Al-Furqan ayat 70,
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka mohonkanlah kepada Allah agar senantiasa diberikan kesanggupan untuk menyadari kata hati, agar ia tetap pada fitrahnya mampu dimintai 'fatwa' dalam perjalanan menapaki segala pilihan hidup. Aamiin

Selasa, 08 Mei 2018

Reconnect with Qur'an (Part 2)


Selanjutnya..

Kita diingingatkan tentang bagaimana agar bisa terhubung dengan Al Qur'an, yakni memahami kembali 3 peran penting berikut ini :

Pertama
Al Qur'an hadir sebagai 'Advice' atau pemberi nasehat.

Ketika sedang meminta nasehat pada orang lain, kita pernah mendapati orang-orang yang berniat memberikan nasehat untuk kita namun dengan cara penyampaian yang menyakitkan dan merendahkan. Bahkan malah membuat kita semakin ingin menjauh dari dirinya dan nasehat-nasehatnya. Benarkan?

Namun sangat berbeda, dan terasa menyenangkan bila kita mendapati sahabat yang menasehati dengan cara yang menenangkan, berusaha memahami betul persoalan kita, bahkan ia dengan tulus merangkul kita.

Sama halnya dengan Al-Qur'an.
Ia memberi nasehat tanpa rasa marah, ia betul-betul memahami perasaan kita, ia ingin yang terbaik untuk kita, ia berusaha merangkul diri dan hati kita yang sedang rapuh.

Kedua,
Al Qur'an hadir sebagai Penyembuh bersifat 'Healing'

Ia menasehati, hingga kita merasa relax  dan healing. Ia menasehati, hingga kita merasa lebih baik. Setiap orang dari kita memiliki perasaan yang berbeda-beda, semisal senang, marah hingga merasa dendam, sedih, trauma, kecewa terhadap orang lain, bahkan mungkin ada yang anaknya telah meninggalkan rumah dan ia bersedih atas hal itu.

Dan Qur'an berusaha merangkul semua rasa yang ada pada dirimu. Ia hadir untuk menyembuhkan semua luka mu. Ia, Allah hadirkan untuk dirimu.

Ketiga,
Al Qur'an hadir sebagai 'Guide' atau Petunjuk bagi dirimu

Namun seringkali kebanyakan dari kita sulit mempercayainya, karena mungkin belum pernah mengalaminya. Maka, sekarang adalah saatnya dirimu meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Al Qur'an adalah petunjuk dari Allah. 

Butuh keyakinan yang kuat! 
Bahwa, Dia memberikan semua solusi permasalahanmu melalui ayat Al Qur'an. Saat sedangbada masalah, bukalah Qur'an mu. Yakinlah dengan sepenuh hatimu, bahwa Qur'an akan menghubungkanmu langsung dengan petunjuk Allah.

Setelah merasakan feeling kepada Al Qur'an, apa yang kemudian harus dirubah pada diri kita?

Yang harus dirubah pada diri kita adalah Cara Berdoa.

Karena Quran dimulai dengan doa (Al Fatihah, Ihdinash shirotol mustaqiim..) dan diakhiripun juga dengan doa (An Naas, Qul a'udzubirobbinnaas malikin naas, ilahin naas...). Maka semua ayat Quran sesungguhnya bisa menjadi inspirasi doa bagi diri kita.

Pahamilah bahwa setiap membaca ayat Al Quran, kita harusnya senantiasa menghubungkannya dengan kehidupan pribadi kita dan menjadikannya doa. Karena doa berasal dari hati, maka terhubungnya kita dengan Qur'an ditandai dengan cara diri dalam memahami doa tersebut, cara kita berkomunikasi dengan Allah.

Disampaikan bahwa kita tidak diminta untuk menghafalkan/menyelesaikan seluruh isi Al Qur'an, bahkan para sahabat pun sebagian besar bukanlah seorang hafidz, melainkan kita diperintahkan untuk selalu terhubung dengannya, merasakan keterikatan dengan ayat-ayatnya, setiap hari.

Terakhir disampaikan,
Barangsiapa berpegang pada Tali Allah sesungguhnya ia sedang berpegangan pada Allah. Ibarat 2 sisi tali yang digenggam erat, maka yang menarik lebih kuatlah yang lebih berkuasa. Jika tali yang kita genggam erat tersebut adalah tali Allah, maka kehidupan diri ini akan senantiasa ditarik ke sisi yang lebih dekat dengan Allah. Dimana perjalanannya bersifat terus menerus naik ke derajat yang lebih baik.

Wallahua'lam.

Reconnect With Qur'an (Part 1)


Pernah ga sih merasa ga bersemangat saat membaca Qur'an? Atau pernah ga sih merasa capek saat baca Qur'an? Atau..atau.. merasa membaca Qur'an setiap harinya adalah sebuah beban?

Kalo saya *PERNAH BANGET* merasa seperti itu!

Terlebih kalau lagi hectic sama agenda harian yang padat, atau selesai suci dari haid (yang hampir seminggu tidak bersinggungan langsung dengan Al-Qur'an).

Jujur secara pribadi, saya lagi mencari-cari nasehat yang menggugah agar bisa lebih bersemangat membaca Qur'an.

Sampai suatu ketika saya menemukan ceramah singkat tafsir ayat oleh ust. Nouman Ali Khan di youtube terkait Cara Mengetes Apakah Diri Kita Termasuk Pribadi Rendah Hati. Saya merasa tergugah dan tersadar dengan analogi yang beliau sisipkan, bahkan termasuk juga penitik beratan beliau pada kata-kata yang dipilih Allah dalam ayat tersebut, semisal pemilihan kata jika dan ketika yang berbeda maksud.

Bisa kalian cek videonya di link ini.

Maka, saat ada info ust. NAK akan datang ke Indonesia, saya bersegera mendaftarkan diri ke panitia acara tersebut. Alhamdulillah dengan izin Allah saya pun bisa menghadiri langsung kajian beliau 6 Mei lalu di Istiqlal (meski dengan keterbatasan pemahaman Bahasa Inggris saya dalam memahami lecture dari beliau).

Sedikit yang saya catat kala itu..

Berawal dari Euforia tayangnya film Infinity War dari para penikmat Marvel. Beliau menceritakan mereka (penonton tsb) sangat antusias, merasa penasaran, ikut membayangkan dan berekspektasi terhadap keseruan yang akan diterima saat menonton film tersebut. (tambahan saya- Bahkan mungkin termasuk merasa gregetan saat ada pihak yang spoiler dengan isi ceritanya ya, karena sebegitu inginnya merasakan juga sensasi menonton langsung film tersebut.)

Begitulah kondisi orang yang sudah terikat- terhubung dengan sesuatu, ia akan punya 'feeling yang kuat'. Ia akan merasa antusias terhadap apa-apa yang berkaitan dengan hal tersebut. Akan selalu merasa penasaran dan selalu bersemangat tanpa terbesit bosan membicarakan hal yang berkaitan dengannya.

Harusnya begitulah kita bisa memposisikan diri agar bisa merasa selalu terhubung/terikat (connect) dengan Al-Qur'an. Kita harus mempunyai 'feeling yang kuat' terhadapnya.

Lagi, diceritakan tentang seorang ibu hamil dan bayi dalam kandungannya. Kita diingatkan bahwa sang ibu dengan segenap cintanya, segenap hidupnya menjaga sang buah hati terkasih. Memberinya makan, memastikan sang bayi selalu sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi, apakah sang bayi mengetahuinya? Tidak! Sang ibu melakukan semua pengorbanan itu tanpa sepengetahuan si bayi.

Begitulah analogi perlakuan Allah kepada para hambaNya. Allah memberikan segenap penjagaan, perhatian yang begitu mendetail kepada setiap makhlukNya tanpa sepengetahuan mereka. Begitupun saat Dia menurunkan Al Qur'an. Ia turunkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, Ar Rahman.

Penekanan yang diberikan adalah, kita perlu menanamkan satu hal ini sebelum membuka dan membaca Qur'an,

"Bahwa Allah menjadikan Al- Qur'an ini ada adalah untuk kebaikan dirimu, untuk menjaga mu. Ia hadir sebagai tanda sayang untuk mu. Al Qur'an ini bukan untuk para Nabi atau para sahabat, tetapi untuk dirimu."


To be continued..


Kamis, 26 April 2018

Ngambeknya Anak-anak itu Sesuatu Banget..


Berlatih mendidik anak bisa juga ya dengan jadi seorang pengajar bimbel. Menghadapi marahnya sang anak karena ga mau dibilang salah, atau karena mereka yang merasa ga bisa saat dikasih soal latihan untuk dikerjakan. Khasnya anak-anak, jika kecewa mereka lebih sering menangis/ merengek , meskipun usianya bukan lagi TK ataupun SD Kelas 1.

Ngambek itu kayaknya hak segala pribadi, org dewasa pun juga bisa ngambek. Tapi, anehnya anak-anak itu marahnya cepat selesai, meski kita yang lebih dewasa masih berlarut bapernya 😂. Emang aneh ya emosi anak-anak. Kadang mereka dengan jelas merekam di dalam memorinya kemarahan orang dewasa kepada mereka, namun dengan mudahnya mereka lupa akan tingkah marah/ ngambeknya mereka.

Namanya juga belum matang akal nya, jadi masih tanpa beban melakukan segala hal. Harusnya sih ya, kita yang dewasa lebih banyak mengalah dan memahami mereka, bukan malah ikutan baper dan capek sendiri -karena pengen marah ke mereka tapi ga boleh 😧. (Ini lagi ngaca dan nasehatin diri banget)

Sempat membaca di suatu buku, anak-anak yang suka ngambek itu perlu dibantu untuk menjelaskan emosi apa yang sedang dirasakan. Tanyakan apakah mereka sedang merasa kesal? Sedih? Atau sedang merasa bingung dan takut? Biar mereka paham, cara mengekspresikan emosi yang sedang mereka rasakan. Jika cara mereka mengungkapkan perasaan tersebut bukanlah cara yang tepat- semisal melempar barang, berteriak atau diam yang berlarut-larut, sampaikan rasa kurang suka kita sebagai orang dewasa terhadap sikap tersebut dan berharap di kesempatan selanjutnya ia akan bersikap lebih baik. Tentunya diakhiri dengan senyum tulus menginginkan kebaikan bagi mereka atas nasehat itu.

Meskipun diri ini pribadi belum bisa mengakhiri dialog 'kejujuran' itu dengan senyum dan mimik wajah apresiasi yang tepat. 😟 sesuatu banget.

Bersikap terhadap anak orang lain saja sulit, apalagi bersikap terhadap anak sendiri ya nantinya. Nggak boleh terlalu memanjakan, namun tetap harus bisa jadi tempat ternyaman mereka berbagi segala cerita.

Minggu, 08 April 2018

Mencari Barokah bukan Pamer Izzah Saat Kajian


Kajian keislaman jika dihadiri sama ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek dan kakek-kakek itu hal yang biasa ya. Yah secara logika usia-usia beliaulah seorang manusia sudah mencapai kematangan berpikir karena pengalaman hidup. Dan pas kisaran umur tersebut lumrah anggapan terkait semakin menipisnya jatah usia, semakin dekat dengan ajal.

Nah yang luar biasa itu, lihat kajian keislaman yang dihadirinya oleh pemuda. MasyaAllah. Udah 'lurus' di usia semuda itu kan waw banget. Di saat yang muda lainnya sedang condong bersenang-senang menikmati kebebasan setelah beranjak dari fase sebagai anak-anak menuju remaja-dewasa, pemuda-pemuda tersebut memilih kegiatan yang lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan Sang Penciptanya.

Kejadian itu baru saja saya alami pagi tadi (8/4). Hadir di kajian Islami khusus Pemuda Bekasi dengan Ustadz Hanan Attaki sebagai narasumber. Kurang lebih panitia menginfokan ada 6.000 peserta hadir, di acara subuh berjama'ah yang dilanjut kajian setelahnya tersebut. Waw banget lihat begitu banyak pemuda yang antusias terhadap ilmu akhirat.

Dari sekian nasihat yang beliau bagikan di moment itu, ada satu yang paling berkesan. Saat beliau secara halus menegur kebiasaan jaman millenial yang jauh-jauh hadir kajian karena ingin selfie dengan pembicaranya, bukan fokus pada kebarokahan menuntut ilmunya .

Sebelumnya, beliau mencerikan tentang kisah seorang pemuda yang berguru pada seorang ulama bernama Hasan Al-Bashri (CMIIW). Diceritakan, rumah beliau berjarak sangat amat jauh dari kediaman sang ulama tersebut. Sesampainya bertemu dengan sang Ulama, pemuda ini diberikan 1 nasihat. "Batalkanlah jual beli yang merugikan 1 orang meski yang sembilan lainnya untung." Sebelum berpisah dengan sang ulama, ia meminta beliau untuk bersedia mendoakan dirinya. Hasan Al-Bashri pun mendoakan pemuda ini dan selepas itu pulanglah ia ke daerah asalnya.

Bagi para salafush sholeh, kebiasaan yang erat saat menghadiri majelis ilmu adalah meminta doa para ulama pada zamannya untuk kebaikan dirinya di masa depan. Dan mereka tidak kecewa meski telah menempuh jarak sangat jauh untuk bertemu sang Ulama, namun hanya mendapat sedikit nasihat. Beda ya dengan generasi masa kini, dikit-dikit update foto saat ikut kajian, dikit-dikit selfie dengan pembicara. Duh! Kayanya akan nyesel banget gitu kalo pergi kajian belum ada bukti foto dan update medsosnya. Padahal mestinya yang lebih berbekas di hati dan ingatan kita adalah ilmunya daripada sekedar foto dengan sang pembicara.
Astaghfirullah.

Semoga, kita tersadar dan tidak ikut arus yang mendorong diri ini lebih sibuk kepada hal yang remeh temeh, seperti banyak selfie saat kajian dan bisa lebih fokus pada hal yang esensi ketika beramal sholeh semisal mengejar barokah menuntut ilmu. Aamiin.

*baru sadar, saat ikut kajian ini terlalu terkesima bisa lihat live ustadz hanan, sampe lupa buat nyatet isi kajiannya. Jangan ditiru yaa~ sekeren apapun sang narasumber tetap biasakan mengikat ilmu dengan mencatat ya. 😆 (Sambil penasaran, nyari-nyari rekaman di youtube ceramah kemarin) *

Curhatan Pengajar Bimbel..


"Neng, coba dihitung 7x8 berapa ya?"
"...", 
Pandangannya mencoba menghindari mataku.
"Yaudah, kalo gitu 5x5 berapa?"
"...",
Lagi lagi hening. Kali ini disertai senyum manis, yang tepat menampakkan ketidaktahuannya akan jawaban dari pertanyaanku.
"Heem.. kalau gitu neng hafalnya sampe perkalian berapa?"
"Perkalian satu dan dua", jawabnya.
Aku hanya takjub dan dalam hati sedih mendengar pengakuan itu dari seorang murid kelas 6.

Itu adalah sepenggal ilustrasi dialog keseharian sebagai seorang pengajar bimbel full time. Dengan waktu yang terbatas, orangtua berharap perubahan yang banyak pada pola belajar anaknya setelah mulai ikut bimbel. Ironis benar kan? Padahal sang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan di sekolah, bukan di bimbel. Tapi, beginilah realitanya.

Bagi saya, menjadi guru bimbel bukan berarti ingin menyaingi guru di sekolah. Justru sebenarnya tugas kami adalah membantu guru-guru di sekolah. Pengajar bimbel memastikan anak-anak paham segala pembelajaran yang telah diterimanya dari sang guru formalnya.

Kami juga ikut bahagia saat mereka bercerita tentang nilai ujiannya yang bagus. Ataupun melihat nilai yang memuaskan dari soal latihan di sekolah. Jujur, kami ikut bangga. Merasa jerih payah mengajari ataupun meluruskan pemahaman yang keliru pada sang anak didik telah berhasil. Tabarakallah. Alhamdulillah.

Tak hanya saat ada kabar baik, ketika ada kekeliruan yang didapati anak di sekolah akibat pembelajaran di bimbel, kami pun juga kaget, sedih dan merasa bersalah. Kami juga ingin membantu anak dengan kemampuan belajar yang lemah bisa kembali bersemangat mendalami pelajaran sebagaimana teman-temannya secara umum.

Namun, begitulah penyedia jasa. Ukuran berhasilnya adalah apakah jasanya telah cocok dengan kualitas yang distandarkan oleh konsumen. Jika iya, maka kepercayaan kepada Bimbel dan pengajar akan terus meningkat. Namun jika tidak, satu per satu buah bibir tentang buruknya kualitas jasa tersebut akan diketahui publik. Mau tak mau mereka yang mengandalkan jasa bimbel merasa berhak menuntut perbaikan pada pola belajar anak didiknya meski intensitas pertemuan bimbel yang terbatas.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha. Hasilnya, biar kita serahkan pada Allah. Kita cukup terus berupaya dengan mastatho'tum (optimal) merencanakan segala langkah yang akan kita tempuh. Terbuka terhadap saran dan inovasi demi perbaikan diri. Meski gerak terbatas, terbukti banyak yang sudah bisa menghadirkan hasil terbaik. Maka jangan mau kalah. Bismillah optimalkan potensi terbaik kita.

Kebaikan itu Saling Berkaitan..

Hampir satu bulan tidak menulis.
Kenapa?
Bingung menjawabnya.
Satu bulan ini rasanya belum ada yang membuat hati gelisah, sehingga mood menulis belum muncul.

Padahal kata bapak koor, menulis itu perlu diasah bahkan kadang perlu dipaksa (dituntut). Agar kita terbiasa menulis dan ga lagi tergantung mood saat menulis (jika memang menulis adalah pekerjaan yang paling kita sukai).

Lagi bener-bener merenung lho, kenapa ya lagi ga semangat nulis? Padahal diri ini telah meyakini bahwa menulis adalah kegiatan paling favorit.

Apa semua terlaksananya kegiatan kebaikan itu saling terkait ya? Termasuk menulis dan beribadah. Adakah mereka berdua saling berkaitan? Nah! Ini sepertinya penyebab kegalauan tadi. Memang akhir-akhir ini jadwal tilawah agak tercecer, ditandai mulainya terasa goyah konsistensi baca quran harian diri ini. Makanya segala perenungan yang biasa dilakukan, jadi terlewat begitu saja. Hikmah yang harusnya bisa diikat dalam bentuk tulisan, jadi lenyap bersama menit dan detik yang berlalu.

Malu.
Iya.
Karena merasa ada kemunduran, saya merasa malu.
Malu sama diri sendiri, terlebih sama Allah.

Makanya akhirnya saya memperbaiki kelalaian itu. Dengan memberanikan diri meminta nasihat orang terdekat tentang masalah ini, saya berharap bisa berhasil  memantik lagi semangat tarbiyah dzatiyah saya yang mulai meredup. Alhamdulillah itu cukup memberi pengaruh. Diri ini jadi tersadar dengan jelas bahwa persepsi maklum kita sudah kelewat batas, dan kita perlu lagi kembali ke jalan yang benar. 

Perlu lho saat sedang melemah, kita meminta bantuan 'bangkit' seperti di atas dari orang lain. Dengan maksud untuk menyegarkan segala kepenatan dan menyadarkan diri kita agar kembali 'lurus'. Dan yakinilah bahwa satu niat kebaikan akan menghantarkan kita pada kebaikan yang lainnya lagi. Jadi jangan ragu lagi untuk mewujudkan peluang dan niat kebaikan yang muncul.

Wallahua'lam

Jumat, 16 Maret 2018

Pilih Calon yang Jago Debat? Cermati Lagi, yuk!

Salah satu Debat Publik yang diadakan menjelang Pilkada

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 ini, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) berinisiatif mengadakan debat publik yang bertujuan agar masyarakat semakin mengenal sosok pasangan calon dan visi-misi yang digagasnya.

Biasanya, seusai diadakannya debat publik, media massa akan memberikan analisis terkait performa adu argumen dari para kandidat. Dan penilaian tersebut bersifat linear dengan kemampuan public speaking sang pasangan calon saat sesi debat berlangsung.

Begitupun sebagian besar cara penonton menilai, pihak yang mempunyai kepiawaian retorika akan dengan mudah memikat hati mereka. Membuat mereka terpengaruh dan condong dengan gagasan calon tersebut.

Namun, cukupkah hasil penilaian calon pada sesi debat menjadi satu-satunya alasan kuat dalam menentukan pilihan terbaik?

Senin, 12 Maret 2018

Membuktikan Adabmu dalam Menuntut Ilmu

Banyak ya sekarang ini jamaah youtube-iyyah. Yang belajar ttg Islamnya hanya merasa cukup dg menonton secara online, bukannya menghadiri kajian secara langsung.

Menuntut ilmu pada masa kini memang sangat mudah aksesnya. Channel berisi ceramah berbagai ustadz dan penceramah bertebaran di youtube sana. Segala hal yang belum diketahui bisa langsung dipahami dengan bermodal klik dan kuota internet saja. Tapi apakah itu semua sudah cukup untuk menjadikan diri kita dianggap sebagai orang yang berilmu dan senantiasa mencari ilmu?

Kamis, 08 Maret 2018

Adab dan Nilai Zaman Millenial.. ckckckck

Yang muda tetap harus menghormati yang tua

Pernah ga sih nemuin macem orang yang saat dikasih masukan sama yg lebih tua, malah meresponnya dengan tanggapan yang kurang sopan?

Saya baru aja nemuin orang macem itu. Benar-benar baru aja, malam ini. Walaupun bukan saran saya yang ditanggapi begitu, melihat adab yang ngawur kepada yang lebih tua, bikin hati ini mulai bergejolak menolak.

Padahal masukan yang diberikan menurut saya sudah disampaikan dengan sopan dan bahasa yang cukup hati-hati agar tidak menyinggung yang punya hajat (orang yang diberi saran). Ada-ada nih anak jaman now. Ngada-ngada aja adab sopan santunnya. Belajar Bahasa Indonesia nya ga tuntas kali ya pas SMP. Kan ada Bab tentang bagaimana tata cara berdiskusi yang dan teknik menolak pendapat berbeda dengan perkataan yang sopan.

Mba yang ngasih saran sabar banget~
Barakallah ya mba sholihaa.. semoga sabarnya istoqomah. Aamiin.

Mungkin karena generasi millenial kenalnya dengan segala sesuatu yang serba instan, jadi dirinya terbiasa santai dimanapun berada.

Hadirkan dan Yakinlah..

Oleh : Fatimah

Diantara jerit hati yang menggema
Hadirkanlah bisikan lembut di celah nelangsa
Diantara pekatnya gulita kehidupan
Hadirkanlah secercah pelita menyapa kelamnya jiwa
Diantara tajamnya duri bunga kebanggaan
Ingatlah selalu ada harumnya aroma ketulusan
Diantara panasnya cercaan kebencian Insan
Ingatlah selalu sejuknya janji Tuhan akan kesabaran yang kau upayakan

Hawa yang 'Berbeda'

Oleh : Fatimah

Hawa..
Kau dicipta Tuhan sebagai penguat sang Adam
Kau dicipta Tuhan sebagai teman setia sang Adam
Dan, Kau pun dicipta Tuhan sebagai Ibu bagi anak-anak Adam

Hawa..
Makhluk lembut yang hatinya kuat
Makhluk lembut yang hatinya adalah sumber kekuatan hidupnya
Makhluk penuh kasih yang keyakinannya telah menjadikannya ‘pusat cinta’
Pusat cinta buah hati yang dilahirkannya
Pusat cinta Adam, sang teman setia
Dapatkah mereka bertahan, saat sang pusat cinta merana?
Dapatkah mereka bersinar terang, saat sang pusat cinta meredup gelap?

Rabu, 07 Maret 2018

Kabar Sendu Berkepanjangan itu Kini Melanda Ghouta, Suriah

Kondisi bayi yang menjadi korban penyerangan Militer Suriah


Malam ini begitu sendu. Tak lain tak bukan, disebabkan oleh kabar terbaru saudara muslim kita di Ghouta, Suriah. Tersayat hati ini, mendapati mimpi buruk yang dulu menimpa Allepo kini terjadi pada Ghouta.

Tak habis pikir, mengapa bisa ada pribadi sejahat Bashar Al Assad. Pemimpin yang lebih mementingkan kekuasaannya di banding keselamatan rakyatnya. Padahal warga sipil yang terluka dan terbunuh akibat penyerangan brutal ini, adalah rakyat yang akan meminta pertanggungjawabannya sebagai pemimpin di akhirat kelak.

Belum menyadari betapa mengerikannya rezim suriah ini? Bukalah mata dan hati nurani kalian. Penyerangan militer Suriah yang telah banyak menewaskan masyarakat sipil ini, telah terjadi sejak tahun 2011. Tanpa kita sadari, kejahatan kemanusiaan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun, yang lamanya menyamai lebih dari satu periode kepresidenan di Indonesia.

Awal mula penyerangan oleh rezim Assad,
Semua penyerangan ini diklaim sebagai usaha rezim Assad untuk melumpuhkan kelompok oposisi yang masih menguasai beberapa kota di Suriah. Ghouta Timur merupakan enklave terakhir dekat ibu kota yang masih dikuasai pejuang oposisi. Maka dari itu penyerangan ke Ghouta dianggap rencana penting untuk menghentikan penembakan ke ibu kota Damaskus oleh kelompok pejuang oposisi.

Minggu, 04 Maret 2018

Fenomena Pindah Partai Jelang Pemilu 2019, Adakah yang Orientasinya Masih Lurus?

Keong yang suka berganti 'rumah'

Duh, emang ya kalau manusia itu sudah punya kemauan seringnya apapun akan diupayakannya. Termasuk untuk menjadi seorang politisi handal. Pilihan untuk akhirnya pindah ke partai yang 'lebih cocok di hati' pun, meski dicibir, tetap akan dilakoni. 

Begitulah kondisi nyata perpolitikan ibu pertiwi, banyak oknum yang mengandalkan berbagai cara 'memenangkan popularitas' di panggung ini.

Seperti kisah Mantan politisi senior PDIP,  Ratno Pintoyo yang pindah haluan ke Partai Nasdem. Ia langsung dipercaya untuk menjabat sebagai dewan pakar di sana, seperti dikutip www.radarjogja.com (1/3/2018)

Ia mengaku tidak bisa menyampaikan aspirasi lagi di PDIP. ‘’Jadi saya memutuskan keluar (dari PDIP),” kata Ratno.

Sebenarnya, pilihan untuk berpindah partai sepenuhnya adalah hak dari seorang politisi, tak ada yang berhak menghakimi keputusan tersebut. Namun pastinya, ada alasan kuat yang mendasari perpindahan sang politisi ke partai lain. Dan sebagai seorang pemilik hak suara di Pemilihan Umum (PEMILU) nanti, kita harusnya cerdas membaca maksud dibalik gelagat para pelaku politik praktis tersebut.

Fenomena politisi yang berubah haluan ini bisa terjadi dikarenakan dua alasan berikut ini: