Senin, 21 Januari 2019

Jalan Kaki Melelahkan, Tapi ...

.
Bagi yang sudah terbiasa berkendara motor pasti tau banget malasnya jalan kaki, capeknya jalan kaki. Like me! Wkwkwk (pengakuan >.<)
.
Jalan kaki, bagi mereka yang gak terbiasa akan benar-benar melelahkan. Tau efeknya?
.
Pegelnya kaki akan menyiksa segera setelah selesai perjalanan.
.
Bahkan kaki yang masih 'kaget' itu akan terus nyeri-kesakitan hingga beberapa waktu ke depan.
.
Males banget kan sama efeknya? :3
.
Bahkan saya pribadi, harus mengoleskan 'minyak GPU' (yang biasa dipake ngurut badan) ke bagian pergelangan kaki dan telapaknya, untuk menghilangkan semua pegel yang munculnya ga karu-karuan.
.
Tapi, liburan kemarin saya byk datang ke tempat wisata yang mengharuskan saya untuk terus berjalan kaki, seharian. Yap, betul-betul seharian.
.
Meski capek, saya belajar sesuatu. Jika bukan dengan berjalan kaki, semua pemandangan indah itu ga akan bisa dinikmati dengan maksimal. Keadaan sekitar saat berjalan kaki, tak sadar sering jadi bahan perenungan tiba-tiba.
.
Atau minimal sebagai orang yang sedang jalan-jalan, memaksimalkan fungsi kaki ini juga akan membuat kita menangkap momen berfoto lebih banyak. Hhehehe, maklum saya bela-belain ke tempat-tempat wisata itu slh satu tujuan utamanya adalah hunting foto bagus 😆.
.
Begitupun saat berangkat kerja, ke tempat bimbel yang jaraknya hanya terpaut 6 gang dari rumah saya. Berjalan kaki membuat saya jadi mengamati kondisi sepanjang perjalanan.
.
Memperhatikan kucing yang muncul, mengamati orang-orang yang sedang berlalu-lalang, ataupun mencari upaya agar bisa melalui jalanan yang teduh saja (yg tertutup bayangan), biar ga gosong ini kita punya kulit, diajak jalan siang-siang.
.
Ya saya tau memulai yang baik itu banyak godaan. Untuk tahun ini, seterdesak apapun, jika jaraknya tak begitu jauh akan saya coba untuk lebih banyak berjalan. Berjalan dengan kaki bukan dengan mengendarai motor bergigi. mohon diaminkan. aamiin
.
@30haribercerita #30hbc1908#30hbc19jalan

Aku, Sang Timbangan


Perkenalkan namaku, timbangan. Lengkapnya, Timbangan Berat Badan.

Aku alat yang menyedihkan. Aku sering disalahkan saat menunjukkan nilai kepada orang yang menggunakanku. Mereka seringkali tak terima, saat angka yang kutunjukkan lebih beberapa angka dari terakhir kali aku digunakan.

Ya, aku adalah Timbangan. Besar kecil angka yang kutunjukkan, seringkali membuat stress mereka yang menggunakan. Mereka banyaknya bersedih, atas berbedanya ekspektasi dengan angka yang kumunculkan.

Namun meski malang begini, ada yang takut jika bertemu dengan ku. Benar-benar menjauh dan tak mau menoleh barang sebentar. Entah karena mereka tak siap dengan kenyataan, atau karena aku dianggapnya perusak harapan 'sang penyuka makanan'.
.
Tapi hari ini aku senang. Karena pemilikku menjadikanku sebagai bagian dari pengadaan layanan kesehatan. Angka yang kutunjukkan sangat amat diperhatikan, bahkan dicatat dan dibagikan kepada yang bersangkutan. Nilai yang kumunculkan dijadikannya acuan, agar sang manusia tidak lalai menjaga diri dan kesehatan.

Salam Jujur dariku,
Sang Timbangan Berat Badan

@30haribercerita #30hbc1907

Mentook


Mau ini, mau itu, tapii mentok..
Mau bisa begini, bisa begitu, tapi mentook..
Mau hasilnya sebagus gambar yang ini, sebagus gambar yang itu, tapi mentok.
.
Mentok bikin stress.
Mau beraktivitas idenya mentok.
Stuck.
Berjam-jam mendekam pun ide tak kunjung datang.
Kutelateni, ganti warna, ganti gambar,
Ganti posisi, bekerja sambil bernyanyi-nyanyi, tapi aku masih buntu.
.
Beristirahat sejenak, menjeda daya otak yang telah dipaksa bekerja.
Berharap inspirasi datang menyapa.
.
Kini segarnya otak mulai terasa, beberapa ide muncul bersusulan. Ku selesaikan apa yang telah kumulai.
.
Tapi..
Begitu semua tanggungan selesai,
Kau bilang "Hasil buatanmu tak sesuai ekspektasi ku", "Tolong ubah seperti yang aku maksud ya."
Hati rasanya remuk. Mentok kerja otakku. Mentok hingga ke dasar semua semangatku.
.
.
@30haribercerita #30hbc1906

Sabtu, 05 Januari 2019

Baper



Wanita single mana yang tidak ingin menikah? Ia tahu benar kodratnya, ingin berkumpul bersama pasangan yang Allah takdirkan untuknya, segera. Namun jiwa, terkadang menuntut apa yang sering dipandang mata, dan mampu dirasa indera.

Bersegera padahal terburu-buru
Berkeinginan seperti mendikte Takdir
Berdoa selalu ingin dikabulkan segera

Manusia. Wanita.
Hatinya lembut. Rasa-rasa miliknya mudah terhanyut. Terbawa perasaan menjadikannya mudah berlarut-larut, dalam angan, dalam rasa yang berkecamuk.

Kamu Baper.
Tak dewasa dalam merasa. Tak bijak dalam berprasangka.

Gadis, kamu tahu Tuhan Adil.
Dia ingin kamu bersabar.
Atau mungkin dirimu perlu terus berkaca,
Memperbaiki cela yang ada, sembari menunggu semburat awan cinta yang dikelilingi pahala surga.

@30haribercerita #30hbc2019 #30hbc1905

Tawakkal


Tawakkal itu kondisi dimana seseorang telah berusaha maksimal kemudian menyerahkan hasil akhir urusannya hanya kepada Allah.

Dan Pedagang, adalah pekerjaan yang paling membutuhkan sikap tawakkal.

Logika pada umumnya, bagaimana mungkin setiap penjual mampu mendapatkan keuntungan, jika mereka setiap harinya saling berjejer berdekatan menjajakkan barang yang sama?

Logika dan kuasa manusia begitu pendek jangkauannya. Kuasa Allah tanpa batas lah yang mampu menjadikan apa yang nampak mustahil menjadi nyata. Allah telah jaminkan rezeki dari setiap yang hidup, termasuk pula para pedagang dan para kompetitornya, tanpa tertukar sekalipun.

Optimal terus dalam setiap usaha
Husnudzon selalu pada Allah Ta'ala
Pasrah dan tawakkal kan semua jerih payah
Karena rezeki, takkan pernah lari dari pemiliknya

*renungan hasil jualan sore tadi, meski sepi ada saja yang ternyata mau beli 😍*

@30haribercerita #30hbc1904

Lupa


Kenapa kebanyak orang membenci sifat ini?  Padahal tau kah kita, apa hikmah sifat ini Allah jadikan sebagai salah satu fitrah manusia?

Lupa yang seringkali kita ingat, hanya perihal sikap menyebalkan saat seseorang tak fokus dengan sesuatu hal, hingga ia berakhir dg melupakannya.

Padahal ternyata lupa merupakan sebuah nikmat yang Allah jadikan juga untuk kita. 

Kok bisa? 

Ya, Allah yang berkuasa menjadikan lupa sebagai nikmat. Saat seseorang mengalami sesuatu yang mengerikan ataupun yang menyedihkan, rasa lupa atau teralihkannya perhatian lah yang menjadikan dirinya bisa beraktivitas kembali seperti biasa.

Trauma anak-anak korban bencana pun akan cepat pulih, jika mereka diajak untuk melupakan masa-masa mengerikan yang telah dilaluinya dengan bermain dan bercanda. Lupa-lah yang menjadikan mereka bisa menatap masa depan lebih cerah. Jika tidak diberkahi lupa oleh Allah, tak bisa dibayangkan mimpi buruk bencana yang selalui menghantui.

Maka, selalu ambil poin positif dari segala pemberian Allah Ta'ala. InsyaAllah dirimu akan merasa tenang dan optimis.

Atas berkah Rahmat Allah, kamu mampu melupakan semua hal yang mengerikan, menyedihkan bahkan menyesakkan.

Seperti aku yang lupa menulis di hari ketiga @30haribercerita #30hbc1903 , semoga ada hikmahnya. 😅

Rabu, 02 Januari 2019

Ilmu Sakti Dadakan (Cerita Humor)


Malam itu Ferguso, si sulung, diajak kedua orangtuanya pergi ke resepsi nikah salah seorang kenalan sang Ayah. Ia bertugas menyetir dan menunggui mobil hingga ayah-ibunya selesai menghadiri acara.

"Kak, kamu tunggu sini ya. Ayah-Ibu ke dalam dulu. Kamu jangan jauh-jauh, lho." titip Ayah mengingatkan anak sulungnya satu itu.

"Iya, Kak. Jangan jauh-jauh nunggunya yak." timpal sang Ibu.

"Oke, Yah, Bu. Tenang~" jawabnya santai.

Menunggu memang tidak mengasyikkan, sehingga sepupuku satu itu menghabiskan waktu nya sembari berjalan-jalan di sekitar parkiran resepsi. Ia jajan untuk menghalau rasa lapar, menanti keduanya selesai menghadiri kondangan.

Ayah dan Ibunya yang telah selesai menghadiri undangan tersebut segera menghampiri mobil di parkiran.

Herannya, Ferguso tak ada di sana menunggui mobil. Sang Ibu mulai merasakan firasat tak enak. Sang Ayah yang panik pun menelepon sang Sulung berkali-kali.

****
Tak lama, Ferguso menyadari ponselnya bergetar, tanda ada panggilan masuk. Ia yang sedang makan pun, sesegera mungkin menjawab panggilan itu. Ternyata itu telepon dari Ayahnya.

"Kak, lagi dimana?! Ayah sama Ibu udah selesai nih!" Sang Ayah tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

"Oiya?! Ayah dimana?" Ferguso menjawab tanggap.

"Di dekat mobil. Cepet kesini, Kak! Jangan pake lama! Sekarang" Jawab Ayah cepat.

Lelaki jangkung itu pun bersegera menghampiri mobil yang diparkirnya. Sesampainya di mobil, Ia mencari Ayah-Ibunya sembari membuka pintu mobil. Dan tiba-tiba ia mendapati sosok misterius..

***
"Astaghfirullah!! Kok Ayah sama Ibu sudah di dalam mobil?!" Seru Ali kaget.

"Iya, Nih. Mulai malam ini kami punya Ilmu Sakti Menembus Mobil." Jawab Ibunya singkat sambil menatap si sulung yang sedang terheran-heran.

"Kok?" Tanya Ferguso kebingungan.

"Kakak tu gimana? Disuruh nungguin mobil kok malah begitu! Iih Kakak , Ceroboh nya itu lhooo" tangan sang Ibu mulai menjewer kuping si sulung itu, jengkel.

"Kamu lupa ngunci mobil, Kaak! Untung ga hilang ini mobil Ayah." Jawab sang Ayah sambil gregetan menahan kesal.

Dirinya hanya bisa nyengir karena malu, akibat sikap pelupanya, kini orang tuanya punya Ilmu Sakti Menembus Mobil. Wkwkwk

-02-

Selasa, 01 Januari 2019

Hakikat Kebenaran yang Tulus Tersampaikan


Jaman informasi yang penuh kemudahan ini, banyak orang semakin mudah memperkaya kapasitas diri. Mudah mencari ilmu. Tak lagi berbatas jarak untuk makin  mengetahui dan memahami, segala hal di dunia ini.

Dan kebenaran adalah salah satu yang marak dicari dan didefinisi kembali.

Tapi, dua hari belakangan ini aku sedang gelisah. Gulana perihal kebenaran dan ketulusan dalam penyampaiannya.

Memang begitulah manusia, diberkahi akal untuk bersikap. Disisipkan potensi nafsu sebagai ujian hidup. Maka mereka yang telah mulai untuk banyak belajar, akan terus dipertemukan dengan kebenaran-kebenaran baru yang sebelumnya tak ia kenali. Dan mereka yang lebih dahulu memahami kebenaran tersebut akan selalu diuji dengan ego yang tak sadar mungkin terkesan menghakimi.

Berpikiran terbuka bukan berarti menghindari hakikat kebenaran, apalagi menutup diri dari perbaikan. Dan berilmu bukan berarti bebas menyampaikan, segala yang benar tanpa ketulusan.

Tak apa. Aku hanya sedang bingung. Jika dua hal yang sama-sama bermaksud baik salah paham, bukankah jalan keluarnya adalah saling berlapang atas segala masukan? Janganlah dibenturkan! Yang sedang belajar dengan yang sedang menyampaikan kebenaran tetap bisa sejalan-berdampingan.

Bukankah kebenaran hanya dari Tuhan?

Maka jika nasihat untuk mu berasal dari Tuhan, berlapanglah. Dan jika Kebenaran yang kau sampaikan dari Tuhan, maka tunjukkanlah ketulusan dan kepedulian kepada penerimanya.

Kebenaran tak pernah salah. Kita lah yang sering salah memahami hakikat dan cara penyampaiannya.

-01-