Kamis, 08 Maret 2018

Adab dan Nilai Zaman Millenial.. ckckckck

Yang muda tetap harus menghormati yang tua

Pernah ga sih nemuin macem orang yang saat dikasih masukan sama yg lebih tua, malah meresponnya dengan tanggapan yang kurang sopan?

Saya baru aja nemuin orang macem itu. Benar-benar baru aja, malam ini. Walaupun bukan saran saya yang ditanggapi begitu, melihat adab yang ngawur kepada yang lebih tua, bikin hati ini mulai bergejolak menolak.

Padahal masukan yang diberikan menurut saya sudah disampaikan dengan sopan dan bahasa yang cukup hati-hati agar tidak menyinggung yang punya hajat (orang yang diberi saran). Ada-ada nih anak jaman now. Ngada-ngada aja adab sopan santunnya. Belajar Bahasa Indonesia nya ga tuntas kali ya pas SMP. Kan ada Bab tentang bagaimana tata cara berdiskusi yang dan teknik menolak pendapat berbeda dengan perkataan yang sopan.

Mba yang ngasih saran sabar banget~
Barakallah ya mba sholihaa.. semoga sabarnya istoqomah. Aamiin.

Mungkin karena generasi millenial kenalnya dengan segala sesuatu yang serba instan, jadi dirinya terbiasa santai dimanapun berada.

Hadirkan dan Yakinlah..

Oleh : Fatimah

Diantara jerit hati yang menggema
Hadirkanlah bisikan lembut di celah nelangsa
Diantara pekatnya gulita kehidupan
Hadirkanlah secercah pelita menyapa kelamnya jiwa
Diantara tajamnya duri bunga kebanggaan
Ingatlah selalu ada harumnya aroma ketulusan
Diantara panasnya cercaan kebencian Insan
Ingatlah selalu sejuknya janji Tuhan akan kesabaran yang kau upayakan

Hawa yang 'Berbeda'

Oleh : Fatimah

Hawa..
Kau dicipta Tuhan sebagai penguat sang Adam
Kau dicipta Tuhan sebagai teman setia sang Adam
Dan, Kau pun dicipta Tuhan sebagai Ibu bagi anak-anak Adam

Hawa..
Makhluk lembut yang hatinya kuat
Makhluk lembut yang hatinya adalah sumber kekuatan hidupnya
Makhluk penuh kasih yang keyakinannya telah menjadikannya ‘pusat cinta’
Pusat cinta buah hati yang dilahirkannya
Pusat cinta Adam, sang teman setia
Dapatkah mereka bertahan, saat sang pusat cinta merana?
Dapatkah mereka bersinar terang, saat sang pusat cinta meredup gelap?

Rabu, 07 Maret 2018

Kabar Sendu Berkepanjangan itu Kini Melanda Ghouta, Suriah

Kondisi bayi yang menjadi korban penyerangan Militer Suriah


Malam ini begitu sendu. Tak lain tak bukan, disebabkan oleh kabar terbaru saudara muslim kita di Ghouta, Suriah. Tersayat hati ini, mendapati mimpi buruk yang dulu menimpa Allepo kini terjadi pada Ghouta.

Tak habis pikir, mengapa bisa ada pribadi sejahat Bashar Al Assad. Pemimpin yang lebih mementingkan kekuasaannya di banding keselamatan rakyatnya. Padahal warga sipil yang terluka dan terbunuh akibat penyerangan brutal ini, adalah rakyat yang akan meminta pertanggungjawabannya sebagai pemimpin di akhirat kelak.

Belum menyadari betapa mengerikannya rezim suriah ini? Bukalah mata dan hati nurani kalian. Penyerangan militer Suriah yang telah banyak menewaskan masyarakat sipil ini, telah terjadi sejak tahun 2011. Tanpa kita sadari, kejahatan kemanusiaan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun, yang lamanya menyamai lebih dari satu periode kepresidenan di Indonesia.

Awal mula penyerangan oleh rezim Assad,
Semua penyerangan ini diklaim sebagai usaha rezim Assad untuk melumpuhkan kelompok oposisi yang masih menguasai beberapa kota di Suriah. Ghouta Timur merupakan enklave terakhir dekat ibu kota yang masih dikuasai pejuang oposisi. Maka dari itu penyerangan ke Ghouta dianggap rencana penting untuk menghentikan penembakan ke ibu kota Damaskus oleh kelompok pejuang oposisi.

Minggu, 04 Maret 2018

Fenomena Pindah Partai Jelang Pemilu 2019, Adakah yang Orientasinya Masih Lurus?

Keong yang suka berganti 'rumah'

Duh, emang ya kalau manusia itu sudah punya kemauan seringnya apapun akan diupayakannya. Termasuk untuk menjadi seorang politisi handal. Pilihan untuk akhirnya pindah ke partai yang 'lebih cocok di hati' pun, meski dicibir, tetap akan dilakoni. 

Begitulah kondisi nyata perpolitikan ibu pertiwi, banyak oknum yang mengandalkan berbagai cara 'memenangkan popularitas' di panggung ini.

Seperti kisah Mantan politisi senior PDIP,  Ratno Pintoyo yang pindah haluan ke Partai Nasdem. Ia langsung dipercaya untuk menjabat sebagai dewan pakar di sana, seperti dikutip www.radarjogja.com (1/3/2018)

Ia mengaku tidak bisa menyampaikan aspirasi lagi di PDIP. ‘’Jadi saya memutuskan keluar (dari PDIP),” kata Ratno.

Sebenarnya, pilihan untuk berpindah partai sepenuhnya adalah hak dari seorang politisi, tak ada yang berhak menghakimi keputusan tersebut. Namun pastinya, ada alasan kuat yang mendasari perpindahan sang politisi ke partai lain. Dan sebagai seorang pemilik hak suara di Pemilihan Umum (PEMILU) nanti, kita harusnya cerdas membaca maksud dibalik gelagat para pelaku politik praktis tersebut.

Fenomena politisi yang berubah haluan ini bisa terjadi dikarenakan dua alasan berikut ini:

Kamis, 01 Maret 2018

Empati Sang Pejuang Gerbong Wanita

Commuter Line gerbong 'khusus' wanita
"Ladies First" adalah ungkapan yang  terkenal tentang bagaimana seharusnya laki-laki mendahulukan seorang wanita dalam pemenuhan haknya. Ungkapan ini akan banyak terbukti saat melihat gerbong KRL biasa, akan didapati banyak penumpang laki-laki yang memberikan tempat duduknya kepada pengguna wanita yang membutuhkan dan berposisi berdiri tak jauh darinya.

Namun berbeda ceritanya saat melihat kondisi kaum hawa di gerbong khusus wanita Commuter Line (KRL) Jabodetabek, pada jam berangkat dan pulang kerja. Pada kondisi dengan semua penumpangnya adalah wanita, ungkapan di atas bisa berubah menjadi sikap arogan kaum hawa untuk mempertahankan kenyamanan yang telah susah payah didapatkannya dalam gerbong KRL.

Minggu, 25 Februari 2018

Rendah Hati Tak Pernah Membuatmu Kalah


Seperti biasa saat membuka beranda youtube, vlog terbaru Gita Savitri adalah hal pertama yang saya cari. Ternyata video terbarunya kali ini menyinggung nama seorang Ustadz yang baru saja berkunjung ke Berlin saat itu, yakni Nouman Ali Khan.

Gita menyampaikan rasa nyamannya terhadap gaya penyampaian dan konten ceramah dari sang ustadz. Sontak setelah selesai dengan vlog tersebut, saya beralih mencari video-video tentang sosok ustadz ini. Muncullah beberapa rekomendasi video beliau, dan langsung ada satu pilihan yang membuat mata saya fokus tertuju. Penyampaian beliau yang membahas sikap Rendah Hati beserta Ciri-Cirinya, silahkan cek link nya berikut ini..

https://www.youtube.com/watch?v=vYPDO8C0oGU&t=0s&list=LLhJiDbxQEGAhzHchNsFL4bA&index=2

Karena terdapat terjemahan bahasa Indonesia pada video itu, saya pun tanpa ragu meng-klik link tersebut dan menontonnya hingga selesai. Tak rugi, banyak hal yang mencerahkan dari singkatnya penyampaian beliau dalam video itu.

Beliau membahas sebuah ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang yang rendah hati yakni Quran Surah Al- Furqon Ayat 63. Dikatakan bahwa kategori pertama orang disebut rendah hati, adalah saat dimana ia berhadapan dengan lawan bicara yang jahil, yang pemarah, yang berkata kasar bahkan menyakiti perasaan hatinya, maka ia kemudian Qoluu Salaman.

Beliau memberikan contoh yang sangat dekat dengan keseharian kita, semisal saat mengendarai mobil dan menemui pengendara yang menjengkelkan. Bahkan kita mendapati sang pengemudi dengan santainya memaki kita, dianggapnya insiden tersebut adalah kesalahan kita sepenuhnya. Beliau mencontohkan respon-respon manusiawi yang sering kita nampakkan atas insiden seperti ini, semisal membunyikan klakson dengan keras dan penuh emosi kepada pengendara lain tersebut.

Beliau kemudian menerangkan apa yang dimaksud dengan Qoluu Salaman.

Mempunyai Impian itu Hak kita, dan Pengabulannya adalah Kuasa Allah

Pernah kah kalian melihat bahkan mungkin mengalami sendiri, orang lain yang menyangsikan atau bahkan sampai ikut men-jugde cita-cita dan harapan besar dirimu atau orang-orang terdekatmu? Bagaimana perasaan kalian saat terjadi hal itu? Mungkin sedih, kesal atau bahkan justru menjadi tidak lagi pe-de (percaya diri) dikarenakan penghakiman pihak lain terhadap segala upaya diri kita dalam menggapai impian tersebut. Padahal bukankah Cita-cita itu milik kita? Kita lah yang lebih tau sampai batas mana upaya tersebut sudah kita optimalkan.

Jujur, saya suka menulis. Apalagi menulis di saat banyak hal yang mengganggu pikiran, bahkan parahnya saya pernah menulis karena ingin membuat sindiran untuk seseorang (hehehe), rasanya ingin semua unek-unek itu tertuang dalam tulisan, hingga tak hanya jadi keluhan namun juga jadi renungan.

Ingat sekali, awal mula merasa sangat terbantu dengan menulis, saat kelas 4 SD (kalau tidak salah). Ada tragedi yang terjadi membuat saya tak henti menangis ketakutan, namun seketika air mata berhenti setelah semua curhatan itu tertuang di buku tulis.

Setelahnya mulailah SMP saya membuat blog dan meneruskan menulis segala kegelisahan saya di sana. Kebiasaan ini pun berlanjut hingga saya kuliah, tumpah ruah semua rasa tercurah di diary digital saya. Tanpa sadar, kebiasaan menulis ini mulai menumbuhkan benih-benih impian saya menjadi seorang wartawan/ reporter. Meskipun saat itu belum pernah ada kesempatan bagi saya untuk mendekati atau mendalami jurnalistik sebagai bagian dari profesi itu.

Setelah lulus kuliah, kesadaran ingin menjadi seorang reporter pun mulai mendapatkan peluangnya.