Rabu, 07 Maret 2018

Kabar Sendu Berkepanjangan itu Kini Melanda Ghouta, Suriah

Kondisi bayi yang menjadi korban penyerangan Militer Suriah


Malam ini begitu sendu. Tak lain tak bukan, disebabkan oleh kabar terbaru saudara muslim kita di Ghouta, Suriah. Tersayat hati ini, mendapati mimpi buruk yang dulu menimpa Allepo kini terjadi pada Ghouta.

Tak habis pikir, mengapa bisa ada pribadi sejahat Bashar Al Assad. Pemimpin yang lebih mementingkan kekuasaannya di banding keselamatan rakyatnya. Padahal warga sipil yang terluka dan terbunuh akibat penyerangan brutal ini, adalah rakyat yang akan meminta pertanggungjawabannya sebagai pemimpin di akhirat kelak.

Belum menyadari betapa mengerikannya rezim suriah ini? Bukalah mata dan hati nurani kalian. Penyerangan militer Suriah yang telah banyak menewaskan masyarakat sipil ini, telah terjadi sejak tahun 2011. Tanpa kita sadari, kejahatan kemanusiaan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun, yang lamanya menyamai lebih dari satu periode kepresidenan di Indonesia.

Awal mula penyerangan oleh rezim Assad,
Semua penyerangan ini diklaim sebagai usaha rezim Assad untuk melumpuhkan kelompok oposisi yang masih menguasai beberapa kota di Suriah. Ghouta Timur merupakan enklave terakhir dekat ibu kota yang masih dikuasai pejuang oposisi. Maka dari itu penyerangan ke Ghouta dianggap rencana penting untuk menghentikan penembakan ke ibu kota Damaskus oleh kelompok pejuang oposisi.

Minggu, 04 Maret 2018

Fenomena Pindah Partai Jelang Pemilu 2019, Adakah yang Orientasinya Masih Lurus?

Keong yang suka berganti 'rumah'

Duh, emang ya kalau manusia itu sudah punya kemauan seringnya apapun akan diupayakannya. Termasuk untuk menjadi seorang politisi handal. Pilihan untuk akhirnya pindah ke partai yang 'lebih cocok di hati' pun, meski dicibir, tetap akan dilakoni. 

Begitulah kondisi nyata perpolitikan ibu pertiwi, banyak oknum yang mengandalkan berbagai cara 'memenangkan popularitas' di panggung ini.

Seperti kisah Mantan politisi senior PDIP,  Ratno Pintoyo yang pindah haluan ke Partai Nasdem. Ia langsung dipercaya untuk menjabat sebagai dewan pakar di sana, seperti dikutip www.radarjogja.com (1/3/2018)

Ia mengaku tidak bisa menyampaikan aspirasi lagi di PDIP. ‘’Jadi saya memutuskan keluar (dari PDIP),” kata Ratno.

Sebenarnya, pilihan untuk berpindah partai sepenuhnya adalah hak dari seorang politisi, tak ada yang berhak menghakimi keputusan tersebut. Namun pastinya, ada alasan kuat yang mendasari perpindahan sang politisi ke partai lain. Dan sebagai seorang pemilik hak suara di Pemilihan Umum (PEMILU) nanti, kita harusnya cerdas membaca maksud dibalik gelagat para pelaku politik praktis tersebut.

Fenomena politisi yang berubah haluan ini bisa terjadi dikarenakan dua alasan berikut ini:

Kamis, 01 Maret 2018

Empati Sang Pejuang Gerbong Wanita

Commuter Line gerbong 'khusus' wanita
"Ladies First" adalah ungkapan yang  terkenal tentang bagaimana seharusnya laki-laki mendahulukan seorang wanita dalam pemenuhan haknya. Ungkapan ini akan banyak terbukti saat melihat gerbong KRL biasa, akan didapati banyak penumpang laki-laki yang memberikan tempat duduknya kepada pengguna wanita yang membutuhkan dan berposisi berdiri tak jauh darinya.

Namun berbeda ceritanya saat melihat kondisi kaum hawa di gerbong khusus wanita Commuter Line (KRL) Jabodetabek, pada jam berangkat dan pulang kerja. Pada kondisi dengan semua penumpangnya adalah wanita, ungkapan di atas bisa berubah menjadi sikap arogan kaum hawa untuk mempertahankan kenyamanan yang telah susah payah didapatkannya dalam gerbong KRL.

Minggu, 25 Februari 2018

Rendah Hati Tak Pernah Membuatmu Kalah


Seperti biasa saat membuka beranda youtube, vlog terbaru Gita Savitri adalah hal pertama yang saya cari. Ternyata video terbarunya kali ini menyinggung nama seorang Ustadz yang baru saja berkunjung ke Berlin saat itu, yakni Nouman Ali Khan.

Gita menyampaikan rasa nyamannya terhadap gaya penyampaian dan konten ceramah dari sang ustadz. Sontak setelah selesai dengan vlog tersebut, saya beralih mencari video-video tentang sosok ustadz ini. Muncullah beberapa rekomendasi video beliau, dan langsung ada satu pilihan yang membuat mata saya fokus tertuju. Penyampaian beliau yang membahas sikap Rendah Hati beserta Ciri-Cirinya, silahkan cek link nya berikut ini..

https://www.youtube.com/watch?v=vYPDO8C0oGU&t=0s&list=LLhJiDbxQEGAhzHchNsFL4bA&index=2

Karena terdapat terjemahan bahasa Indonesia pada video itu, saya pun tanpa ragu meng-klik link tersebut dan menontonnya hingga selesai. Tak rugi, banyak hal yang mencerahkan dari singkatnya penyampaian beliau dalam video itu.

Beliau membahas sebuah ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang yang rendah hati yakni Quran Surah Al- Furqon Ayat 63. Dikatakan bahwa kategori pertama orang disebut rendah hati, adalah saat dimana ia berhadapan dengan lawan bicara yang jahil, yang pemarah, yang berkata kasar bahkan menyakiti perasaan hatinya, maka ia kemudian Qoluu Salaman.

Beliau memberikan contoh yang sangat dekat dengan keseharian kita, semisal saat mengendarai mobil dan menemui pengendara yang menjengkelkan. Bahkan kita mendapati sang pengemudi dengan santainya memaki kita, dianggapnya insiden tersebut adalah kesalahan kita sepenuhnya. Beliau mencontohkan respon-respon manusiawi yang sering kita nampakkan atas insiden seperti ini, semisal membunyikan klakson dengan keras dan penuh emosi kepada pengendara lain tersebut.

Beliau kemudian menerangkan apa yang dimaksud dengan Qoluu Salaman.

Mempunyai Impian itu Hak kita, dan Pengabulannya adalah Kuasa Allah

Pernah kah kalian melihat bahkan mungkin mengalami sendiri, orang lain yang menyangsikan atau bahkan sampai ikut men-jugde cita-cita dan harapan besar dirimu atau orang-orang terdekatmu? Bagaimana perasaan kalian saat terjadi hal itu? Mungkin sedih, kesal atau bahkan justru menjadi tidak lagi pe-de (percaya diri) dikarenakan penghakiman pihak lain terhadap segala upaya diri kita dalam menggapai impian tersebut. Padahal bukankah Cita-cita itu milik kita? Kita lah yang lebih tau sampai batas mana upaya tersebut sudah kita optimalkan.

Jujur, saya suka menulis. Apalagi menulis di saat banyak hal yang mengganggu pikiran, bahkan parahnya saya pernah menulis karena ingin membuat sindiran untuk seseorang (hehehe), rasanya ingin semua unek-unek itu tertuang dalam tulisan, hingga tak hanya jadi keluhan namun juga jadi renungan.

Ingat sekali, awal mula merasa sangat terbantu dengan menulis, saat kelas 4 SD (kalau tidak salah). Ada tragedi yang terjadi membuat saya tak henti menangis ketakutan, namun seketika air mata berhenti setelah semua curhatan itu tertuang di buku tulis.

Setelahnya mulailah SMP saya membuat blog dan meneruskan menulis segala kegelisahan saya di sana. Kebiasaan ini pun berlanjut hingga saya kuliah, tumpah ruah semua rasa tercurah di diary digital saya. Tanpa sadar, kebiasaan menulis ini mulai menumbuhkan benih-benih impian saya menjadi seorang wartawan/ reporter. Meskipun saat itu belum pernah ada kesempatan bagi saya untuk mendekati atau mendalami jurnalistik sebagai bagian dari profesi itu.

Setelah lulus kuliah, kesadaran ingin menjadi seorang reporter pun mulai mendapatkan peluangnya.

Kamis, 18 Januari 2018

Haruskah Aksi 212 vs Politik Praktis?

Sempat beredar tulisan tentang perwakilan ormas yang keberatan dan merasa adanya penggiringan opini politik umat seiring diadakannya reuni alumni 212.

http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/01/13/132970/pp-pemuda-muhammadiyah-minta-alumni-212-tidak-masuk-politik-praktis.html

Beliau merasa dipolitisisasi ketulusannya bergabung bersama umat, ketika terjadi kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok mendekati Pemilu Gubernur Jakarta 2016 silam.

Senin, 21 Agustus 2017

Jangan Bodoh dan Ceroboh (Meskipun Hanya di Dunia Tak Nyata) !!

Katanya media yang sengaja dibuat untuk memperluas jaringan pertemanan. Tapi justru ada ketimpangan dari segala maksud baik diciptanya media sosial. Banyak kita temui, semakin meluasnya kebiasaan hidup pamer, kebiasaan mengomentari dan men-judge kehidupan orang lain, hingga pada kebiasaan menebar kebencian antar pengguna media sosial. Walaupun Jika memandang adil, banyak juga kita temui sisi positif dari adanya media sosial ini. Seperti sarana hiburan berbagi cerita lucu, cerita menginspirasi, sarana para psodusen barang-jasa mendekatkan diri dengan konsumennya, bahkan hingga bertemu dengan jodoh sekalipun.

Namun, banyak isu yang kini mulai membuka mata kita tentang betapa tidak sehatnya para netizen menggunakan fasilitas media sosial saat ini. Jadi teringat sebuah film Indie Korea (maklum, aku penyuka film korea ^^), judulnya SocialPhobia. Berkisah tentang seorang gadis yang sangat amat tertutup dengan dunia sosial di kehidupan nyata nya, namun menjadi sosok yang amat vokal mengomentari kehidupan sosial orang lain di dunia maya. Hingga suatu ketika dia bunuh diri setelah beberapa netizen mendesaknya untuk meminta maaf atas ujaran kebencian yang dia lontarkan melalui akun twitternya, diduga karena rasa takut dan tertekan atas desakan dan ujaran kebencian yang balik menimpa dirinya di dunia maya.

Betapa, ternyata psikologis manusia tak pernah berbeda antara di dunia nyata dan dunia maya. Maka tak sepatutnya kita sebagai, manusia yang dikaruniai rasa dan karsa, dengan brutal menghakimi segala kekeliruan yang terjadi di dunia maya. 

Selasa, 01 Agustus 2017

Milik Siapakah 'Toleransi' itu?

Melihat film yg dibuat oleh bapak 'galon' yg telah diunggah oleh akun resmi Humas POLRI (24/7/2017) membuat muncul stigma (lagi-lagi) umat islam yg mayoritas digambarkan seolah-olah ' saklek dan begitu strict meskipun dalam hal  bersosialisasi'.

Awalnya saya tidak berminat menonton film pendek tersebut, karena sudah banyak yang berkomentar negatif tentang cara pandang pembuat film tersebut terhadap umat Islam. Pikir saya, dengan saya ikut menonton, makin tenar lah film pendek itu. Tapi karena penasaran, akhirnya saya cari juga film itu di youtube. Selesai menonton, saya mulai merenung, adakah kejadian nyata seperti itu? Ataukah itu semua hanya hasil dramatisir kekhawatiran sang pembuat film?

Ini sebenarnya bukan fenomena pertama kali diangkatnya isu terkait toleransi golongan mayoritas terhadap golongan minoritas, sebelumnya jg sudah ada yg melemparkan isu ini. Sepertinya isu ini memang sangat 'hot' untuk kembali diulang-ulang. Mungkin saja, taktik ini digunakan untuk mengubah cara pandang tentang 'toleransi' yang dianggap tidak menguntungkan untuk beberapa pihak yg 'berwenang', agar opini publik bisa perlahan-lahan bergeser sesuai dg kemauan pihak yg melempar isu tersebut.