Selasa, 16 Januari 2018

Haruskah Aksi 212 Berdampak pada Pilihan Politik Umat Islam Indonesia di Masa Depan?

Sempet baca tulisan tentang perwakilan ormas yang keberatan dan merasa adanya penggiringan opini politik umat seiring diadakannya reuni alumni 212.

http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/01/13/132970/pp-pemuda-muhammadiyah-minta-alumni-212-tidak-masuk-politik-praktis.html

Beliau merasa dipolitisisasi ketulusannya bergabung bersama umat, ketika terjadi kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok mendekati pemilu gubernur jakarta 2016 silam.

Dimana yang dimaksud dengan mempolitisasi pada pernyataan tersebut adalah karena agenda Reuni Alumni 212 dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini (sudah tidak ada penista agama yg perlu ditindak oleh umat).

Selain keluhan tersebut juga muncul polemik, dimana terdapat pernyataan Sekjen FUI  yang merekomendasikan calon kepala daerah tertentu kepada partai politik peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), lihat link berikut

https://m.kumparan.com/@kumparannews/al-khaththath-usul-la-nyalla-diusung-di-jatim-tapi-ditolak-gerindra

Dimana ternyata yg hal ini dinilai sbg klaim sepihak, bukan pernyataan resmi FUI.

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180114004619-32-268672/tepis-al-khaththath-alumni-212-klaim-tak-main-pilkada-2018

Jika perjuangan ini dirasa sudah cukup dibatasi relevansi kondisi terkini, sangat disayangkan momentum Umat Islam berkumpul berhenti hanya pada kasus penistaan agama tersebut. Bukankah Umat Islam berhak memberikan efek kebaikan bagi Bangsa Indonesia lebih besar lagi?

Merasa tidak perlu adanya refleksi terhadap pilihan politik di pilkada mendatang setelah kejadian penistaan agama oleh kepala daerah tersebut, merupakan kelalaian yang wajib dihindari. Demi menghindari oknum kepala daerah yang berlawanan dengan kpentingan umat.
Berikut beberapa yang perlu diperhatikan bagi mereka merasa yang peduli akan Umat Islam, terlebih untuk simpatisan dan 'alumni' Aksi Damai 212,


Senin, 21 Agustus 2017

Jangan Bodoh dan Ceroboh (Meskipun Hanya di Dunia Tak Nyata) !!

Katanya media yang sengaja dibuat untuk memperluas jaringan pertemanan. Tapi justru ada ketimpangan dari segala maksud baik diciptanya media sosial. Banyak kita temui, semakin meluasnya kebiasaan hidup pamer, kebiasaan mengomentari dan men-judge kehidupan orang lain, hingga pada kebiasaan menebar kebencian antar pengguna media sosial. Walaupun Jika memandang adil, banyak juga kita temui sisi positif dari adanya media sosial ini. Seperti sarana hiburan berbagi cerita lucu, cerita menginspirasi, sarana para psodusen barang-jasa mendekatkan diri dengan konsumennya, bahkan hingga bertemu dengan jodoh sekalipun.

Namun, banyak isu yang kini mulai membuka mata kita tentang betapa tidak sehatnya para netizen menggunakan fasilitas media sosial saat ini. Jadi teringat sebuah film Indie Korea (maklum, aku penyuka film korea ^^), judulnya SocialPhobia. Berkisah tentang seorang gadis yang sangat amat tertutup dengan dunia sosial di kehidupan nyata nya, namun menjadi sosok yang amat vokal mengomentari kehidupan sosial orang lain di dunia maya. Hingga suatu ketika dia bunuh diri setelah beberapa netizen mendesaknya untuk meminta maaf atas ujaran kebencian yang dia lontarkan melalui akun twitternya, diduga karena rasa takut dan tertekan atas desakan dan ujaran kebencian yang balik menimpa dirinya di dunia maya.

Betapa, ternyata psikologis manusia tak pernah berbeda antara di dunia nyata dan dunia maya. Maka tak sepatutnya kita sebagai, manusia yang dikaruniai rasa dan karsa, dengan brutal menghakimi segala kekeliruan yang terjadi di dunia maya. 

Tak pernah ada aturan yang melarang individu untuk mengutarakan pendapat di muka umum (publik). Namun secara nilai moral, kita telah lama diingatkan agar bertanggung jawab atas segala kebebasan berpendapat yang telah kita dapat. Dimana, segala cara pengutaraan pendapat kita, tetap memperhatikan tata krama dan sopan santun sehingga tidak mengganggu kebebasan berpendapat orang lain.

Memang, beberapa ada yang mengatakan bahwa media sosial itu adalah dunia maya, tak perlu ‘baper’ saat berinteraksi di dalamnya. Namun, jika menjadikan media sosial sebagai bagian dari gaya hidup kita, tempat kita berbagi hal-hal yang menurut kita positif di dalamnya, maka harusnya segala sikap menyimpang yang kita temui di dalamnya, harus dengan bijak kita tanggapi. Setiap orang berhak untuk menunjukkan keberpihakannya. Saat ada individu merasa bahwa ia memiliki patner di media sosial yang menggangu cara berpikirnya, kemudian dia memutuskan untuk meng-unfollow atau me-remove akun tersebut dari daftar pertemanannya, menurut saya pribadi itu bukanlah ‘baper’ dalam ber-media sosial. Itu adalah pilihan bijaknya. Ia merasa perlu membatasi diri, agar tidak terpancing menjadi brutal karena terus menerus merasa risih dengan statement yang di post oleh akun-akun ‘pengganggu’ tersebut. 

Ada alibi dari para penyaji pemikiran ‘nyeleneh’ di media sosial yang membuat statement, bahwa saat mereka memposting hal-hal yang mengumbar kebencian ataupun bertentangan dengan nilai-nilai norma, maka pengguna media sosial yang tidak suka disarankan mengambil solusi dengan tidak menonton ataupun mem-follow update akun mereka. Padahal sebagai seorang yang harusnya ber-tuhan, setiap ujaran yang terlontar dari mulut manusia, adalah hal yang akan selalu dimintai pertanggungjawaban, di akhirat (apa mereka mau nunggu sampai di akhirat dulu baru sadar, betapa penting bertanggungjawab akan setiap omongan yang keluar dari lisan masing-masing?) .

Sampai saat ini, rasa-rasanya para pemerhati med-sos belum bisa mengetahui dengan detail range usia berapa sajakah yang mem-follow akun-akun ‘nyeleneh’ tersebut. Benarkah follower-nya hanya para pengguna internet usia dewasa saja, yang dianggap sudah lebih bijak merespon segala konten tersebut. Ataukah justru follower mereka adalah pengguna usia anak-anak, yang memanipulasi identitas usia akun med-sos mereka, dimana para pengguna ini masih memiliki kebiasaan mudah meniru segala yang dilihat dan dikaguminya. Hal-hal yang memungkinkan ditiru kan tak hanya gaya hidup saja, tapi gaya bicara dalam menanggapi isu-isu yang ada juga tak bisa dipungkiri dari peluang untuk juga ditiru.

Baru-baru ini, terdengar adanya kasus bullying di media sosial juga terkait dengan pernyataan yang dirasa terlalu merendahkan seorang Pakar dan Pemerhati Anak tentang salah satu Korean Grup Idol yang akan diundang ke Indonesia sebagai pengisi acara. Tak hanya satu akun yang melakukan pem-bully-an terhadap beliau, dan ungkapan-ungkapan  yang dilontarkan pun sepertinya tak menhiraukan batas usia diantara pihak yang sedang berinteraksi.

Entahlah.. dengan segala fenomena judging hingga bullying di media sosial tersebut, tetap harus ada yang menyuarakan keberpihakan pada nilai dan norma. Jangan hanya diam dan merasa tak berkepentingan menyampaikan ada nya penyimpangan di lingkungan terdekat kita. Tentunya menyuarakannya juga dengan bijak dan bertanggung jawab. 

Semoga kita sudah beranjak menjadi netizen yang cerdas dan bijak dalam menggunakan media-sosial ya. Peduli itu Kewajiban, kebebasan bertanggung jawab  itu jadi Batasan.

Sabtu, 22 Juli 2017

Kamu Mau Ngapain? Kenapa?

Bekerja..

Bagi seorang wanita, bekerja adalah pilihan. Bagi para pria lah bekerja menjadi sebuah kewajiban, bekerja dalam konteks kewajiban untuk menafkahkan keluarganya.

Pilihan wanita untuk bekerja setelah atau sebelum berumah tangga pastinya selalu akan dihadapkan dengan berbagai konsekuensi. Pengorbanan tenaga yang lebih, pengerahan pikiran untuk perihal domestik keluarga dibarengi dengan perihal publik di ranah kantor.

Menjadi jurnalis adalah salah satu hal yang aku ingin geluti. Mengapa? Simple saja, karena pekerjaan itu berkaitan dengan menulis. Aku suka menulis. Rasa nya aku cukup mahir dalam merangkai kata menjadi tulisan. Tapi sebagai seorang wanita muslimah, harusnya pertimbangan bekerja atau tidak, ataukah perihal bekerja sebagai apa nantinya tak hanya dilihat dari sudut pandang pribadi saja. Muslim yang Kaafah akan berusaha menempatkan kehendaknya agar sejalan dengan hal-hal yang diridhoi oleh Rabb-nya.

Aku kini sedang berkaca. Merefleksikan pilihanku. Apakah sudah benar? Sudah tepat? Ataukah hanya sekedar atas nama gengsi?

Menjadi jurnalis sebenarnya juga punya akses untuk menyampaikan kebenaran, seperti apa yang selalu da’wah ajarkan kepada para penyerunya.

Oke, ayo kita re-arrange alasan mengapa ingin menjadi jurnalis. Harusnya Allah menempati urutan paling atas dalam persembahan atas niatan segala amal. Luruskan niatmu bekerja adalah mencari peluang beramal yang lebih sesuai dengan kemampuanmu, agar Allah semakin berkenan merahmatimu. Setelah itu baru boleh kau tempatkan keluargamu sebagai motivasi setelahnya, motivasi untuk membahagiakan keluarga dengan hasil jerih payahmu.

Maka mari ingat-ingat batas itu. Sesulit apapun rintangan yang kau hadapi selagi bekerja, ingatlah alasan dan motivasi itu. Mohonlah kekuatan kepada Yang Maha Kuat, Allah Ta’ala. Mohon agar kau dimampukan, mohon agar kau diistiqomahkan dalam jalan hidayah Islam, dalam segala bentuk ketaatan. Aamiin.


*Baru saja daftar jurnalis di sebuah media massa. Wallahua’lam apakah akan diterima atau tidak. Namun harus selalu siap dengan berbagai ending yang mungkin akan terjadi nanti*

Kesungguhan membaca Al-qur’an..


Untuk siapa sebenarnya membaca Quran itu bermanfaat? Untuk Allah kah? Tidak mungkin! Allah takkan berkurang kuasaNya meskipun kita tidak rajin membaca QalamNya. Tentu saja, segala manfaat membaca quran akan kembali kepada diri kita sebagai para pembaca dan penghafalnya.

Meskipun malaaaas mendera saat akan membuka halaman demi halaman quran, semua kebaikan membacanya benar-benar hanya akan kembali kepada diri si pembacanya (Pembaca Quran).

Pernah malas baca Quran? Aku pernah. Apa trus hanya diam saat merasa malas? Orang yang akalnya bekerja dan imannya berfungsi dengan baik, akan begitu merasa gelisah dan merasa #Mcrgknskl kepada dirinya yang mulai malas itu. Ia akan berusaha mencari obat agar rasa malasnya bisa berkurang sedikit demi sedikit. Ia akan berusaha berkomitmen dengan obat yang telah dia racik sebelumnya.

Dia evauasi kinerja obat itu secara berkala, ia perhatikan betul apakah masih terlihat penurunan kuantitas membaca quran pada dirinya. Jika masih, ia akan mencari banyak cara agar dirinya tak merasa terbebani membaca quran tersebut.

Maka diapun berusaha membagi lembar-lembar bacaan quran targetan sehari untuk dicicil dibacanya seusai sholat fardhu. Jika ada sholat yang terlewat tak disertai dengan tilawah sesuai target yang cicil, ia akan berusaha membayarnya lebih di waktu sholat berikutnya. Begituu seterusnya.

Jika ia masih terbebani, ia akan mencoba mencari cara terbaik meningkakan semangat membaca quran nya lagi. Salah satunya bisa dengan mengubah posisi membaca qurannya sebagai kebutuhan. Agar Allah mau selalu berkenan melindungi hamba yang lemah ini. Membaca quran sebagai wirid dzikir kita kepada Allah. Jangan berani keluar dari rumah sebelum membaca minimal 2 lembar quran. Berharap karena telah tilawah quran, Allah memberikan perlindungan untuk kita hambaNya dalam melakukan berbagai aktivitas di hari itu.

Oiya, jangan lupa untuk selalu mencari sahabat-sabahat yang selalu membuatmu malu dengan segala amalan tilawahmu. Bukan untuk diratapi, melainkan untuk menjadi motivasi. Agar kelak amalan mu bisa sejajar dengan amalan-amalan tilawah terbaik mereka. Semoga kau istiqomah selalu bersahabat dengan mereka, jangan malah minder ya.


*Nasehat yang sesungguhnya disampaikan untuk diri ini*

Bijak-bijak ya anak muda..

Teknologi itu banyak bikin dilemaaa~~

Kenapa?

Ya karena makin banyak nilai yang bisa diadopsi jadi bagian baru masing-masing diri kita ini. Makin banyak pilihan beraktivitas mengisi waktu senggang, baik itu dalam konteks pemenuhan kebutuhan pribadi (red; malas-malasan, main game, nonton film tak berkesudahan. Wkwkwk. Lagi ngomongin diri sendiri), ataupun dalam konteks yang bisa memperluas kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar (red; Info aksi sosial, info lomba-lomba artikel ilmiah, join kegiatan sosial sebuah organisasi kepemudaan, dst).

Ya bagus sih kalo dilema nya ada di antara kedua pilihan seperti itu, setidaknya masih ada pikiran untuk mau memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bersama, kepentingan masyarakat.
Tapi ya, kalo dilema hanya di salah satu sisi pandang negatif aja gimana?

Waktu senggang hanya dihabiskan untuk nonton film, searching lagu-lagu idol kesukaan, atau bermalas-malasan di kamar sendirian tanpa tergerak untuk lebih banyak bersosalisasi secara fisik. Kalo mau rada kejam, ya seperti orang ‘autis terhadap gadget’.

Nganggur dikit, buka HP. Nganggur dikit, buka youtube, cek IG, buka facebook. Cuma buat ngecek, apa update-an kita makin banyak like nya atau channel favorit ga mutu yang kita subscribe udah upload video baru atau belum. Duh anak muda, hidup kok gampang ditebak amat yak?

Kita itu tuh harus udah mulai sadar, kalo zaman kita ini emang udah biasa banget yang namanya perkembangan canggih teknologi. Jangan norak-norak amat lah liat segudang perkembangan teknologi terutama yang berbasis internet itu.

Bijak deh jadi anak muda yang hidup di zaman millenial. Kita tetap harus kece mengoperasikan segala macem gadget terbaru, tanpa menghilangkan nilai-nilai sosial yang seharusnya kita jaga, adab kita, moral kita, idealisme kita, kepedualian kita terhadap lingkungan sekitar kita.

Janganlah sia-sia-in waktu senggang mu Cuma sekedar memenuhi refreshing diri terus menerus, coba tebar kebaikan untuk sekitar mu. Semoga ke depan diriku dan dirimu bisa dilema dalam hal-hal kebaikan yaak.


*Yuk jauhin diri dari interaksi dengan teknologi, especially gadget, yang berlebihan*